Portal Berita Ekonomi Senin, 26 Oktober 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:20 WIB. Bursa - Indeks Shanghai dibuka melemah 0,90% pada level 3.248.
  • 09:20 WIB. Bursa - Indeks Straits Times dibuka melemah 0,19% pada level 2.532.
  • 09:19 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,02% terhadap Yuan pada level 6,6882 CNY/USD.
  • 09:18 WIB. Valas - Rupiah dibuka menguat 0,03% terhadap Dollar AS pada level 14.655 IDR/USD.
  • 09:01 WIB. IHSG - IHSG menguat 0,22% pada pembukaan sesi I.
  • 08:13 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 40,47 USD/barel.
  • 08:12 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 41,20 USD/barel.
  • 08:12 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,11% terhadap Euro pada level 1,1847 USD/EUR.
  • 08:11 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,09% terhadap Poundsterling pada level 1,3051 USD/GBP.
  • 08:10 WIB. Bursa - Indeks KOSPI dibuka melemah 0,02% pada level 2.360.
  • 08:09 WIB. Bursa - Indeks Nikkei dibuka menguat 0,14% pada level 23.548.
  • 08:08 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,04% terhadap Yen pada level 104,67 JPY/USD.
  • 08:07 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.901 USD/troy ounce. 

Mayoritas Perusahaan Batu Bara Milik Konglomerat RI Telan Pil Pahit! Ini Daftarnya!

Mayoritas Perusahaan Batu Bara Milik Konglomerat RI Telan Pil Pahit! Ini Daftarnya!
WE Online, Jakarta -

Batu bara atau dikenal juga dengan julukan emas hitam menjadi salah satu bisnis komoditas yang paling digeluti, terlepas dari berbagai pro kontra yang menyertainya. Bukan rahasia lagi bahwa bisnis batu bara juga mampu melahirkan sosok-sosok konglomerat di Tanah Air.

Garibaldi Thohir adalah salah satu taipan yang sebagian besar kekayaannya bersumber dari bisnis batu baru. Secara langsung, Garibaldi Thohir terlibat dan menggeluti bisnis tambang batu bara melalui perusahaan yang ia dirikan, yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Ia juga tercatat menjadi salah satu pemegang saham mayoritas dalam Adaro Energy. 

Baca Juga: Dahsyatnya Pandemi: Pemilik Pizza Hut, KFC, dan Starbucks Terpaksa Gigit Jari

Siapa sangka, selain Adaro Energy, masih ada sejumlah nama perusahaan tambang batu bara lain yang sebagian besar sahamnya dikuasai oleh konglomerat Tanah Air. Lantas, perusahaan apa sajakah itu dan bagaimana kinerjanya sepanjang enam bulan pertama tahun 2020? Simak ulasan berikut ini.

1. Adaro Energy - Garibaldi Thohir

Garibaldi Thohir alias Boy Thohir menjadi salah satu konglomerat Indonesia yang mendulang kekayaan melalui bisnis tambang batu bara. Kakak kandung Menteri Erick Thohir tersebut merupakan pemimpin sekaligus pemegang saham mayoritas dalam emiten tambang PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Selain Garibaldi Thohir, ada sejumlah nama konglomerat lainnya yang turut menjadi pemegang saham ADRO walau dalam porsi kecil atau dengan kepemilikan tidak langsung, yakni Theodore Rachmat dan Edwin Soeryadjaya.

Di bawah kepemimpinan Garibaldi Thohir, ADRO membukukan laba bersih sebesar US$155,09 juta atau setara Rp2,27 triliun pada semester I 2020. Sayangnya, capaian tersebut anjlok 47,75% dari capaian semester I 2019 yang kala itu mencapai US$298,86 juta atau setara Rp4,38 triliun.

Baca Juga: Bukan Kaleng-Kaleng! Kabar Terbaru dari Perusahaan Milik Luhut Pandjaitan, Ternyata...

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pada paruh pertama tahun 2020 ini ADRO membukukan penurunan pendapatan usaha sebesar 23% dari US$1,77 miliar (setara Rp26,01 triliun) menjadi US$1,36 miliar (setara Rp19,99 triliun). Jika ditelisik, seluruh sumber pendapatan ADRO kompak menurun. 

Per Juni 2020, segmen usaha pertambangan dan perdagangan batu bara menyumbang US$1,26 miliar dari total pendapatan perusahaan, Itu pun menurun 23% dari Juni 2019 yang kala itu mencapai US$1,64 miliar. Pada periode yang sama, pendapatan dari segmen jasa pertambangan terkoreksi 28% dari US$103 juta menjadi US$74 juta. Kemudian, pendapatan lainnya tercatat menurun sedalam 27% dari US$37 juta menjadi US$27 juta.

Presiden Direktur dan CEO ADRO, Garibaldi Thohir, mengaku bahwa koreksi pendapatan dan laba perusahaan merupakan imbas dari menurunnya volume penjualan batu bara seiring dengan pemberlakuan lockdown di negara-negara pengimpor batu bara. Dengan kondisi tersebut, permintaan terhadap komoditas batu bara pun ikut menurun pada semester I 2020 ini.

Ia melanjutkan, perlambatan ekonomi global dan penurunan aktivitas industri menjadi tantangan besar bagi ADRO sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Meski begitu, ia menilai perusahaan mampu mengupayakan kinerja secara maksimal di tengah tantangan yang ada.

"Kita tidak dapat memungkiri bahwa kinerja Adaro pada 1H20 tidak kebal dari dampak penurunan permintaan batu bara yang terjadi karena wabah COVID-19. Namun, kami tetap memaksimalkan upaya untuk terus berfokus pada keunggulan operasional bisnis inti perusahaan, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas, dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha," pungkasnya dalam keterangan resmi, Selasa, 29 September 2020.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa ADRO akan tetap fokus pada pengendalian biaya dan pemertahanan oprasional yang efisien terhadap rantai pasokan batu bara yang dimiliki perusahaan. Hal itu salah satunya tercermin dari beban pokok pendapatan yang angkanya membaik 14% dari US$1,21 miliar pada tahun 2019 menjadi US$1,04 miliar pada tahun 2020.

"Walaupun masih harus menghadapi tantangan ini untuk beberapa saat ke depan, kami tetap yakin bahwa fundamental sektor batu bara dan energi di jangka panjang tetap kokoh, terutama karena dukungan aktivitas pembangunan di engara-negara Asia," lanjutnya.

Baca Juga

Tag: PT Adaro Energy Tbk (ADRO), Garibaldi Thohir, Boy Thohir, PT Bayan Resources Tbk, Lo Kheng Hong, Low Tuck Kwong, Batubara, Pertambangan, PT Indika Energy Tbk, petrosea

Penulis/Editor: Lestari Ningsih

Foto: Sudut Energi

Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,949.47 3,909.96
British Pound GBP 1.00 19,360.36 19,166.25
China Yuan CNY 1.00 2,215.33 2,193.09
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,811.69 14,664.31
Dolar Australia AUD 1.00 10,554.81 10,442.46
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,911.19 1,892.14
Dolar Singapura SGD 1.00 10,912.61 10,800.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,485.20 17,305.35
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,574.25 3,534.42
Yen Jepang JPY 100.00 14,145.44 14,000.68
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5112.188 20.372 706
2 Agriculture 1162.155 9.913 24
3 Mining 1435.499 5.179 47
4 Basic Industry and Chemicals 765.630 -1.582 80
5 Miscellanous Industry 951.694 22.664 53
6 Consumer Goods 1825.836 15.501 60
7 Cons., Property & Real Estate 323.756 11.438 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 812.761 -9.712 79
9 Finance 1127.096 1.833 93
10 Trade & Service 636.513 -0.535 175
No Code Prev Close Change %
1 RONY 376 470 94 25.00
2 BOLT 505 630 125 24.75
3 POLL 4,330 5,400 1,070 24.71
4 JSPT 920 1,135 215 23.37
5 PDES 202 244 42 20.79
6 JAWA 82 99 17 20.73
7 BBTN 1,260 1,430 170 13.49
8 SMSM 1,260 1,400 140 11.11
9 PALM 280 310 30 10.71
10 GEMA 308 338 30 9.74
No Code Prev Close Change %
1 TGRA 100 93 -7 -7.00
2 AIMS 129 120 -9 -6.98
3 BAJA 101 94 -7 -6.93
4 PBSA 650 605 -45 -6.92
5 TIRA 260 242 -18 -6.92
6 BRIS 1,300 1,210 -90 -6.92
7 DMMX 188 175 -13 -6.91
8 YPAS 290 270 -20 -6.90
9 ESIP 117 109 -8 -6.84
10 OKAS 103 96 -7 -6.80
No Code Prev Close Change %
1 BRIS 1,300 1,210 -90 -6.92
2 BBTN 1,260 1,430 170 13.49
3 TLKM 2,700 2,630 -70 -2.59
4 ANTM 1,085 1,085 0 0.00
5 ASRI 151 149 -2 -1.32
6 AGRO 370 350 -20 -5.41
7 BRPT 945 925 -20 -2.12
8 BBRI 3,300 3,290 -10 -0.30
9 BEST 179 182 3 1.68
10 PWON 404 416 12 2.97