Portal Berita Ekonomi Selasa, 20 Oktober 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 15:01 WIB. IHSG - IHSG melemah 0,52% pada penutupan sesi II.
  • 13:27 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 40,57 USD/barel.
  • 13:27 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 42,54 USD/barel.
  • 13:26 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,06% terhadap Euro pada level 1,1776 USD/EUR.
  • 13:26 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,02% terhadap Poundsterling pada level 1,2945 USD/GBP.
  • 13:25 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,09% terhadap Yen pada level 105,53 JPY/USD.
  • 13:25 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.902 USD/troy ounce.

Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Masa dan Pascapandemi

Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Masa dan Pascapandemi
WE Online, Jakarta -

Pandemi Covid-19 berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri asuransi sehingga imbasnya diprediksikan dapat melewati semester II tahun 2020. Hal itu berdasarkan data Global Makro Outlook dari Insurance Information Institute.

Untuk itu, diperlukan penyesuaian strategi bisnis dari para pelaku usaha untuk tetap dapat bertahan di tengah kondisi saat ini. Peluang dan tantangan yang dihadapi oleh para pelaku industri asuransi tersebut dikupas dalam webinar yang diadakan oleh Gerakan Pakai Masker (GPM) yang berkolaborasi dengan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan tajuk "Adaptasi Industri Perasuransian dalam Penyelamatan Ekonomi di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19".

Baca Juga: Gencar Melakukan Inovasi, Perusahaan Asuransi di Ganjar Ini

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Merangkap Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Riswinandi, mengungkapkan bahwa saat ini dalam rangka mendukung kegiatan berusaha, pemanfaatan teknologi informasi (TI) secara optimal menjadi sangat penting.

"Dengan pemanfaatan TI secara optimal, pelaku usaha dapat menjalankan operasi bisnisnya secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, penggunaan TI juga memungkinkan pelaku usaha untuk tetap dapat berinteraksi secara langsung dengan konsumen, di tengah pembatasan interaksi sosial antar-individu," kata dia.

Adaptasi TI lanjutnya merupakan faktor penting untuk dapat bertahan dalam kondisi pandemi serta mengatisipasi tren perilaku konsumen yang berubah di masa yang akan datang. Mendukung kegiatan berbasis teknologi informasi, saat ini OJK tengah mempersiapkan dan merampungkan RP OJK terkait manajemen risiko teknologi informasi tersebut.

"Sebagai regulator, OJK senantiasa mendorong industri asuransi untuk terus beradaptasi dengan perubahan ekosistem jasa keuangan, termasuk juga dengan inovasi pemasaran jasa keuangan. Namun, inovasi yang dilakukan harus tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian," tambahnya.

Sejalan dengan Riswinandi, Pakar Pemasaran Yuswohady mengatakan bahwa perubahan perilaku konsumen dalam masa dan pascapandemi dapat memberikan dampak serta peluang untuk industri asuransi. Di mana, kecenderungan perilaku konsumen saat ini adalah kembali ke dasar, yakni lebih memprioritaskan kebutuhan, sandang, pangan, dan papan.

Hal ini terjadi karena adanya ketakutan orang karena ketidakpastian ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Ketakutan itu mengakibatkan orang-orang lebih memilih menyimpan uangnya di bank dan mengurangi pembelian. Namun, ketika risiko kematian makin tinggi, mereka akan cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan pokok pada saat pascapandemi.

Optimisme tersebut dapat terlihat dari meningkatnya pemilik polis asuransi di Tiongkok, sebagai negara yang telah berhasil mengatasi pandemi Covid-19. Data Mc Kinsey menyebutkan, pemilik polis asuransi di negara tersebut meningkat sebesar 47% dibanding tahun sebelumnya.

Optimisme yang sama juga disampaikan oleh Ekonom Senior Aviliani yang menyatakan bahwa terdapat potensi yang masih bisa digarap oleh industri asuransi jika jeli melihat peluang dengan memanfaatkan sektor informal sebagai salah satu sasaran. Pengembangan produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor infomal menjadi penting, mengingat tidak pastinya pendapatan pelaku sektor informal.

"Ke depannya, orang-orang akan lebih memilih bekerja pada sektor informal dan tidak lagi menjadi karyawan tetap pada sebuah perusahaan. Orang-orang ini bisa memiliki pendapatan lebih dari Rp7,5 juta per bulan dan layak dilirik oleh industri asuransi untuk menjadi salah satu nasabahnya," lanjutnya.

Ketua GPM Sigit Pramono menambahkan, kondisi pandemi Covid-19 telah memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II menjadi -5,3%. Jika pada triwulan III pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap minus, akan terjadi resesi.

Sigit mengatakan bahwa krisis yang terjadi karena pandemi ini awalnya merupakan krisis kesehatan. Kemudian, direspons dengan PSBB sehingga menimbulkan ekonomi yang setengah berhenti dan diikuti oleh resesi. Jika PSBB yang dilakukan makin panjang, akan menimbulkan resesi yang makin dalam dan bisa menimbulkan depresi.

Ketika terjadi depresi, yang paling dikhawatirkan adalah kerusuhan. Semua proses tersebut disebut spiral maut.

"Peran dari kita semua adalah bagaimana kita dapat menyelamatkan ekonomi agar terhindar dari spiral maut tersebut," ungkap Sigit. Untuk menghidari hal tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu cara paling ampuh dan mudah yang dapat dilakukan saat ini.

"Jika gerakan pakai masker ini berhasil, kita semua bisa menyelamatan nyawa maupun menyelamatkan ekonomi bangsa," pungkasnya.

Baca Juga

Tag: Asuransi, Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Penulis: Boyke P. Siregar

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Boyke P. Siregar

Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,946.95 3,907.47
British Pound GBP 1.00 19,159.07 18,965.50
China Yuan CNY 1.00 2,213.75 2,191.49
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,802.65 14,655.36
Dolar Australia AUD 1.00 10,428.47 10,323.24
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,910.02 1,890.99
Dolar Singapura SGD 1.00 10,903.54 10,794.25
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,422.72 17,243.50
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,572.07 3,533.11
Yen Jepang JPY 100.00 14,025.63 13,884.76
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5126.330 22.916 707
2 Agriculture 1166.383 -9.325 24
3 Mining 1442.328 20.278 47
4 Basic Industry and Chemicals 752.933 1.309 80
5 Miscellanous Industry 897.894 7.514 53
6 Consumer Goods 1850.009 -8.664 60
7 Cons., Property & Real Estate 321.298 2.587 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 827.207 -4.169 79
9 Finance 1137.505 12.096 94
10 Trade & Service 636.465 1.975 175
No Code Prev Close Change %
1 RUIS 270 320 50 18.52
2 BVIC 103 116 13 12.62
3 ANTM 940 1,055 115 12.23
4 KBAG 62 69 7 11.29
5 PAMG 90 98 8 8.89
6 PBSA 600 650 50 8.33
7 SMDR 270 290 20 7.41
8 TCPI 5,500 5,900 400 7.27
9 SINI 448 480 32 7.14
10 SIPD 1,120 1,200 80 7.14
No Code Prev Close Change %
1 PPGL 374 338 -36 -9.63
2 INRU 1,000 930 -70 -7.00
3 TFCO 488 454 -34 -6.97
4 PCAR 316 294 -22 -6.96
5 OPMS 202 188 -14 -6.93
6 AKSI 404 376 -28 -6.93
7 AMAN 318 296 -22 -6.92
8 BNLI 2,480 2,310 -170 -6.85
9 ESTI 73 68 -5 -6.85
10 YPAS 380 354 -26 -6.84
No Code Prev Close Change %
1 ANTM 940 1,055 115 12.23
2 BRIS 1,395 1,400 5 0.36
3 KBAG 62 69 7 11.29
4 TLKM 2,750 2,710 -40 -1.45
5 TOWR 1,025 1,005 -20 -1.95
6 BEST 179 182 3 1.68
7 AGRO 446 426 -20 -4.48
8 PURA 138 131 -7 -5.07
9 BBRI 3,250 3,280 30 0.92
10 ASII 4,930 5,000 70 1.42