Panik Sampai Minta Bantuan Warga, Kongo Kehilangan 1.300 Napi yang Melarikan Diri

Panik Sampai Minta Bantuan Warga, Kongo Kehilangan 1.300 Napi yang Melarikan Diri Kredit Foto: Shutterstock/EPA

Lebih dari 1.300 narapidana melarikan diri dari sebuah penjara di Republik Demokratik Kongo, Selasa (20/10/2020) waktu setempat. Kaburnya para tahanan terjadi setelah serangan di penjara, yang diduga oleh ISIS.

Media lokal yang dikelola PBB, Radio Okapi, dikutip dari laman Anadolu Agency, mengatakan, penyerang menggunakan senjata berat dan tak dikenal.

Baca Juga: Lima BUMN Garap Proyek Infrastruktur Kongo Senilai Rp174 Triliun

Mereka pertama kali menyerang sebuah pos militer di perbukitan timur Lao sebelum menyerang Penjara Pusat Kangbayi di Beni, Provinsi Kivu Utara sekitar pukul 04.00 waktu setempat.

Dalam beberapa unggahan di Twitter, Kivu Security Tracker (KST) mengatakan, ISIS mengklaim serangan itu. KST adalah proyek gabungan Kelompok Riset Kongo dan Pengamat Hak Asasi Manusia yang melacak kekerasan oleh pasukan keamanan negara dan kelompok bersenjata di bagian timur negara Afrika tengah itu. 

Wali kota Beni, Modeste Bakwanamah, mengatakan kepada radio lokal bahwa hanya seratus tahanan tersisa dari 1.456 yang dihitung sehari sebelumnya.

"Sayangnya, penyerang yang datang dalam jumlah besar berhasil mendobrak pintu dengan peralatan listrik," kata wali kota dikutip laman New York Times.

Juru bicara kelompok penjaga perdamaian PBB di Kongo, Mathias Gillmann memperkirakan 1.335 tahanan melarikan diri, dan satu narapidana tewas dalam konfrontasi tersebut.

Gillmann mengatakan bahwa patroli langsung dikirim ke tempat kejadian segera setelah pasukan PBB disiagakan. Pasukan PBB di daerah Beni telah diperkuat.

Di antara mereka yang melarikan diri adalah tahanan dari kelompok pemberontak Uganda Pasukan Demokratik Sekutu dan pemberontak Mai-Mai. Tentara dan polisi hingga kini  tengah mencari para tahanan yang bersembunyi di alam liar.

Bakwanamaha telah meminta masyarakat untuk membantu menangkap para narapidana yang kabur dengan melaporkan orang-orang yang mencurigakan. Pelarian tersebut membuat marah penduduk setempat, yang mengatakan hal itu dapat menyebabkan kekerasan lebih lanjut.

"Ini berbahaya bagi komunitas Beni," kata seorang warga, Sadi Amundala. "Kami ingin pemerintah kami memperbaiki kondisi kehidupan di penjara dan juga memperkuat kehadiran polisi dan militer untuk mencegah pelarian di masa depan," ujarnya menambahkan.

Kongo adalah negara luas yang jangkauan pemerintah pusatnya terbatas. Sementara, Beni terletak di kawasan yang telah lama dilanda kekerasan.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini