Jatuh ke Pangkuan Konglomerat Chairul Tanjung, Nasib Bank Harda Berubah Drastis!

Jatuh ke Pangkuan Konglomerat Chairul Tanjung, Nasib Bank Harda Berubah Drastis! Foto: CT Corp

Langkah konglomerat Chairul Tanjung untuk menguasai PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) nampaknya akan berjalan mulus. Perjanjian pengikatan jual beli saham bahkan sudah ditandatangani oleh para pihak, termasuk Mega Corpora (Mega Corp) sebagai perpanjangan tangan dari Chairul Tanjung pada 16 Oktober 2020 lalu.

Direktur Bank Harda, Yohanes Sutanto, mengungkapkan bahwa dalam aksi akuisisi ini, Mega Corpora akan mengambil alih 73,71% atau mencapai 3,08 miliar saham Bank Harda dari PT Hakimputra Perkasa. Dengan porsi sebesar itu, Mega Corpora akan menjadi pemegang saham pengendali yang baru dalam Bank Harda.  Baca Juga: Nasib Perusahaan Milik Sandiaga dan Rosan Roeslani: Ibarat Jatuh di Lubang yang Sama!

"Tujuan pengendalian adalah mendukung kebijakan perbankan di Indonesia dan mengembangkan Bank Harda untuk menjadi bank yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik dari segi operasional maupun permodalan," ungkap Yohanes secara tertulis, dikutip pada Rabu, 4 November 2020. Baca Juga: Merinding Disko! Rupiah Membabi Buta Serang Dolar AS & Global, Ambruk Semuanya!

Di tengah proses pinangan Chairul Tanjung melalui Mega Corpora ini, Bank Harda belum lama ini melaporkan kinerja keuangan kuartal III 2020. Kabar baiknya, bank yang berdiri pada 21 Oktober 1992 dengan nama PT Bank Arta Griya ini mengalami nasib yang berubah drastis pada sembilan bulan pertama tahun ini. 

Bagaimana tidak, per September 2020, Bank Harda mampu mengantongi laba bersih senilai Rp48,39 miliar. Capaian tersebut berbanding terbalik dengan konsidi Bank Harda pada September 2019 yang kala itu menanggung rugi sebesar Rp6,71 miliar. Menariknya lagi, posisi rugi yang berbalik untung ini justru terjadi ketika pendapatan bunga bersih Bank Harda anjlok pada kuartal ini. 

Pada kuartal III 2020, Bank Harda membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp36,39 miliar atau 50,02% lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp72,82 miliar. Meski begitu, Bank Harda berhasil mendongkrak signifikan pendapatan lainnya dari angka Rp5,13 miliar pada Q3 2019 menjadi Rp86,23 miliar pada Q3 2020.

Pada saat yang bersamaan, sejumlah beban mampu ditekan oleh Bank Harda selama sembilan bulan pertama tahun ini. Misalnya saja, beban bunga tercatat menurun dari Rp101,72 miliar menjadi hanya Rp88,99 miliar. Kemudian, beban tenaga kerja juga ikut terpangkas dari Rp52,08 miliar menjadi Rp46,58 miliar. Begitu pun dengan beban administrasi dan umum yang mengalami penurunan tipis dari Rp28,66 miliar menjadi Rp28,16 miliar per September 2020.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini