Warisan Mendiang Tan Siok Tjien: Keuntungan Gudang Garam Hangus Triliunan Rupiah

Warisan Mendiang Tan Siok Tjien: Keuntungan Gudang Garam Hangus Triliunan Rupiah Kredit Foto: Sufri Yuliardi

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melaporkan penurunan laba bersih sebesar 21,96% pada kuartal ketiga tahun 2020. Jika pada September 2019 lalu, keuntungan bersih dari perusahaan warisan mendiang Tan Siok Tjien ini mencapai Rp7,24 triliun, nilai tersebut menyusut menjadi Rp5,65 triliun pada September 2020.

Melansir dari laporan keuangan perusahaan, Gudang Garam membukukan pendapatan sebesar Rp83,38 triliun pada periode sembilan bulan pertama tahun 2020. Capaian tersebut mengalami kenaikan tipis sebesar 2,03% dari tahun sebelumnya yang kala itu tercatat sebesar Rp81,72 triliun.  Baca Juga: Jatuh ke Pangkuan Konglomerat Chairul Tanjung, Nasib Bank Harda Berubah Drastis!

Pasar lokal masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan Gudang Garam. Per September 2020, segmen ini menyumbang pendapatan hingga Rp81,98 triliun atau naik tipis dari September 2019 yang hanya Rp80,36 triliun. Tak jauh berbeda, Gudang Garam juga mencatat kenaikan tipis atas pendapatan pasar ekspor, yakni dari Rp1,36 triliun pada Q3 2019 menjadi Rp1,39 triliun pada Q3 2020. Baca Juga: Kemenangan Biden Jadi Taruhan: Dolar AS Bangkit dari Kubur, Tapi Lawan Rupiah Babak Belur!

Sementara itu, jika dibedah berdasarkan produknya, rokok sigaret kretek mesin menjadi penyumbang pendapatan paling tinggi, yakni dari Rp74,89 triliun pada tahun lalu menjadi Rp76,09 triliun pada tahun ini. Pendapatan berikutnya adalah rokok sigaret kretek tangan yang kontribusinya naik dari Rp5,79 triliun menjadi Rp6,38 triliun. Kemudian, rokok klobot menyumbang sebesar Rp19,49 miliar, kertas karton sebesar Rp827,93 miliar, dan pendapatan lainnya menyumbang Rp58,98 miliar.

Bersamaan dengan itu, beban pokok pendapatan Gudang Garam tercatat mengalami pembengkakan dari yang sebelumnya hanya Rp65,98 triliun menjadi Rp70,39 triliun. Hal itu yang kemudian membuat keuntungan perusahaan menjadi kurang maksimal.

Namun, perusahaan berhasil menekan beban usaha dari Rp5,76 triliun pada September 2019 menjadi Rp5,54 triliun pada September 2020. Beban lainnya juga ikut membaik, yakni dari Rp22,71 miliar menjadi Rp2,61 miliar. Bahkan, kerugian kurs mampu ditekan signifikan dari Rp6,95 miliar menjadi Rp1,80 miliar.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini