Terkerek Corona, Bisnis Asuransi Makin Merekah

Terkerek Corona, Bisnis Asuransi Makin Merekah Kredit Foto: Sequis

Krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan oleh virus corona makin menyadarkan masyarakat pentingnya memiliki asuransi kesehatan. Hal ini beralasan mengingat risiko hidup dan kesehatan yang tinggi menciptakan kebutuhan akan proteksi asuransi, khususnya jiwa dan kesehatan, yang lebih besar.

Survei Inventure ke konsumen Indonesia, sebanyak 78,7% dari 629 responden berpendapat bahwa memiliki asuransi jiwa dan kesahatan menjadi hal yang dianggap penting.

Baca Juga: Asuransi Sinar Mas Luncurkan Asuransi yang Berikan Perlindungan Saat Jalan-jalan

"Musibah pandemi menjadi blessing in disguise bagi kalangan industri asuransi karena justru membangun urgensi masyarkat untuk menggunakan jasa asuransi untuk melindungi diri dan keluarga," kata Managing Partner Inventure, Yuswohady, dalam "Indonesia Industry Outlook 2021" di Jakarta, Kamis (5/11/2020).

Tren ini lanjut dia memberikan kesempatan bagi industri asuransi untuk memanfaatkan momentum dengan mengedukasi masyarakat sebanyak-banyaknya tentang pentingnya berinvestasi dalam hal proteksi diri, yaitu asuransi.

Hasil lainnya dari survei Inventure adalah 67,6% responden mengatakan bahwa pendapatan mereka berkurang selama pandemi. Namun di sisi yang lain, 35,3% mengatakan pengeluaran mereka justru meningkat.

Menariknya, kalau di awal-awal pandemi lalu jumlah tabungan masyarakat cenderung meningkat sebagai dana cadangan menghadapi ketidakmenentuan akibat krisis pandemi, kini mereka mengakui jumlah tabungan dan investasi mereka menurun dengan angkanya cukup besar masing-masing sebesar 48,6% dan 57,6%.

"Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh krisis pandemi di akhir tahun 2020 ini makin dalam dan dirasakan masyarakat," ucapnya. Meskipun pendapatan masyarakat Indonesia mengalami penurunan, menariknya, rasa optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi mengalami peningkatan.

Ia mengungkapkan, dari 1.121 responden, sebesar 47,2% menyatakan optimis pandemi Covid-19 berakhir di akhir tahun 2020. Sementara, sebesar 51,4% mengatakan bahwa kondisi keuangan mereka akan kembali normal pada akhir tahun 2021.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini