BBN Sawit dan Biohidrokarbon, Dukungan Pemerintah untuk Energi Nasional

BBN Sawit dan Biohidrokarbon, Dukungan Pemerintah untuk Energi Nasional Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Tuntutan akan energi yang ramah lingkungan melalui penggunaan bahan bakar nabati menjadi cita-cita masyarakat dan dunia yang harus diwujudkan bersama.

Terkait hal tersebut, pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk mendorong pengembangan bahan bakar nabati (BBN) biohidrokarbon yang karakteristiknya sama atau bahkan lebih baik daripada senyawa hidrokarbon atau BBM berbasis fosil.

Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Prahoro Yulijanto Nurtjahyo pada pembukaan webinar bertajuk Menyongsong Era Biohidrokarbon di Indonesia yang dilangsungkan secara virtual, Rabu (4/11/2020), menyampaikan, "BBN biohidrokarbon yang ramah lingkungan nantinya dapat langsung digunakan sebagai substitusi BBM fosil tanpa perlu penyesuaian mesin kendaraan. BBN biohidrokarbon dapat dibedakan menjadi green-gasoline, green-diesel, dan bioavtur."

Baca Juga: Kontribusi Kelapa Sawit Penuhi 16 dari 17 Tujuan SDGs

Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), Tatang Hernas Soerawidjaja menyampaikan bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan nabati luar biasa yang memungkinkannya menjadi pusat biohidrokarbon dunia dan negara maju di era perekonomian berbasis nabati (bio-based economy).

Kekayaan nabati yang dimaksud salah satunya yakni minyak kelapa sawit yang rata-rata produksinya mencapai 45 juta ton setiap tahunnya.

Senada dengan hal tersebut, peneliti PPTMGB Lemigas, Lies Aisyah mengatakan, pengembangan BBN untuk energi dimaksudkan guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan untuk menggantikan solar dan bensin, yang saat ini implementasi mandatori untuk solar sudah bertaraf B30.

Kebijakan pemerintah dalam arahan mandatori biodiesel dan pengembangan biohidrokarbon (green fuels) mutlak dilakukan untuk mendorong ketahanan energi nasional, penghematan devisa negara dan pengurangan emisi CO2.

Vice President Downstream Research Technology Innovation PT Pertamina, Andianto Hidayat, mengungkapkan kesiapan Indonesia dalam menyongsong era biohidrakarbon dengan diawali produk katalis anak negeri (katalis merah putih) serta sinergisitas BUMN yang dapat menghasilkan produk dalam hasil co-processing RU II Dumai dan RU III Plaju guna menuntaskan Biofuel generasi I yang berbasis minyak lemak nabati serta bahan berpati dan viofuel generasi II dari bahan lignoselulosa.

"Percepatan penelitan, pengujian dan pengembangan biohidrokarbon (Proyek Biorefinery Pertamina) ini tak luput dari dukungan pemerintah khususnya Kementerian ESDM dalam memberikan relaksasi harga biodiesel," ungkap Andianto.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini