Portal Berita Ekonomi Selasa, 24 November 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:11 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng dibuka negatif 0,17% pada level 26.441.
  • 09:10 WIB. Bursa - Indeks Shanghai dibuka melemah 0,27% pada level 3.405.
  • 09:10 WIB. Bursa - Indeks Straits Times dibuka menguat 0,71% pada level 2.868.
  • 09:09 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,10% terhadap Yuan pada level 6,5792 CNY/USD.
  • 09:08 WIB. Valas - Rupiah dibuka melemah 0,01% terhadap Dollar AS pada level 14.150 IDR/USD.
  • 08:55 WIB. IHSG - IHSG menguat 0,43% pada pembukaan sesi I.
  • 08:09 WIB. Bursa - Indeks Nasdaq ditutup menguat 0,22% pada level 11.880.
  • 08:08 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 43,10 USD/barel.
  • 08:08 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 46,06 USD/barel.
  • 08:07 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,01% terhadap Euro pada level 1,1842 USD/EUR.
  • 08:06 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,07% terhadap Poundsterling pada level 1,3330 USD/GBP.
  • 08:06 WIB. Bursa - Indeks Dow Jones ditutup menguat 1,12% pada level 29.591.
  • 08:05 WIB. Bursa - Indeks KOSPI dibuka menguat 0,72% pada level 2.621.
  • 08:05 WIB. Bursa - Indeks Nikkei dibuka menguat 2,40% pada level 26.139.
  • 08:04 WIB. Bursa - Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,56% pada level 3.577.

Bamsoet: Perlu Dukungan Semua Pihak Pulihkan Ekonomi Indonesia

Bamsoet: Perlu Dukungan Semua Pihak Pulihkan Ekonomi Indonesia
WE Online, Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menekankan bahwa hasil riset perdana yang dilakukan think tank Brain Society Center (BS Center) bertajuk 'Vaksin Covid-19 dan Arah Pemulihan Ekonomi Indonesia' yang dipimpin Prof. Didin Damanhuri bersama para akademisi dan pakar lainnya memperlihatkan bahwa vaksinasi bukanlah satu-satunya jawaban dalam memulihkan ekonomi nasional. Pascavaksinasi massal, tak serta merta masyarakat bisa leluasa beraktivitas seperti sebelum pandemi Covid-19.

"Masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan karena menurut Ketua Tim Riset uji klinis vaksin Covid-19 Unpad, Prof. Kusnadi Rusmil, butuh 2 tahun untuk kembali normal. Pernyataan mengejutkan juga diutarakan ahli kesehatan global, Prof. Peter Doshi, yang menilai warga dunia kemungkinan kecewa karena vaksin hanya mengurangi risiko infeksi 30 persen," ujar Bamsoet saat menjadi keynote speech diskusi dan pelucuran buku BS Center berjudul Vaksin Covid-19 dan Arah Pemulihan Ekonomi Indonesia di Jakarta, Selasa (10/11/2020).

Baca Juga: Bamsoet Ajak Masyarakat Dukung Realisasi Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional

Turut hadir antara lain Wakil Ketua Komisi III DPR RI/Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni, Anggota Komisi III dan Ketua MKD DPR RI/Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Al Habsyi, Ketua Umum BS Center Ahmadi Noor Supit, Ketua Pelaksana/Ketua Dewan Pakar BS Center Prof. Didin Damanhuri, Rektor Universitas Indonesia Prof. Ari Kuncoro, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu, dan Dosen Universitas Paramadina Prof. Abdul Hadi serta Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia 2011-2013 Komjen Pol (purn) Nanan Soekarna.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, selain membutuhkan waktu untuk kembali pada kondisi 'normal' dari perspektif medis, masih ada pekerjaan rumah lain, khususnya pada upaya pemulihan perekonomian nasional. Dampak pandemi yang telah memukul sektor perekonomian dan menempatkan Indonesia pada jurang resesi memerlukan upaya ekstra untuk dapat kembali pulih.

"Pada sektor perekonomian, dampak pandemi telah dirasakan hampir pada seluruh bidang dan tingkatan. Tidak hanya mayoritas sektor UMKM yang mengalami pukulan keras, pengusaha-pengusaha besar juga turut merasakan dampaknya," jelas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, setelah mengalami kontraksi kinerja pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal berturut-turut, yakni minus 5,32 persen pada kuartal II tahun 2020 dan minus 3,49 persen pada kuartal III tahun 2020, sebagaimana telah diprediksikan sebelumnya, saat ini Indonesia mengalami resesi ekonomi. Pandemi telah menggerus dua sisi perekonomian, baik dari sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand).

"Kebijakan pembatasan aktivitas perekonomian secara fisik telah menyebabkan penurunan aktivitas jual beli, terganggunya proses produksi, terhambatnya distribusi, dan berbagai persoalan lain yang bermuara pada penurunan pendapatan. Pada akhirnya, berujung pada meningkatnya angka pengangguran karena pemutusan hubungan kerja (PHK)," terang Bamsoet.

Wakil ketua Umum Kadin Indonesia ini memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Agustus 2020 tercatat jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 9,77 juta orang, atau mengalami kenaikan sebesar 2,67 juta. Bahkan, Bappenas memperkirakan jumlah pengangguran pada tahun 2020 akan mencapai 11 juta orang.

"Mengantisipasi agar tak terjadi PHK massal, pemerintah telah memberikan banyak stimulus kepada korporasi. Antara lain insentif tax allowances dan tax holiday. Bentuknya seperti penurunan tarif PPH badan dengan pagu anggaran Rp20 triliun. Terbaru, pemerintah dan parlemen sudah mengesahkan UU Cipta Kerja yang diharapkan mampu menarik investor untuk membuka usaha di Indonesia sehingga bisa menyerap banyak tenaga kerja Indonesia," pungkas Bamsoet.

Baca Juga

Tag: Bambang Soesatyo, Ekonomi Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Foto: Istimewa

Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,795.45 3,757.58
British Pound GBP 1.00 18,966.47 18,774.93
China Yuan CNY 1.00 2,170.87 2,148.29
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,234.82 14,093.18
Dolar Australia AUD 1.00 10,422.74 10,311.98
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,836.06 1,817.75
Dolar Singapura SGD 1.00 10,607.96 10,500.06
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,903.85 16,734.24
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,482.95 3,444.92
Yen Jepang JPY 100.00 13,720.31 13,582.48
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5652.764 81.108 705
2 Agriculture 1242.319 3.909 24
3 Mining 1605.038 42.110 47
4 Basic Industry and Chemicals 863.060 26.748 80
5 Miscellanous Industry 1019.264 10.676 53
6 Consumer Goods 1867.172 10.917 60
7 Cons., Property & Real Estate 358.681 5.810 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 959.287 24.113 79
9 Finance 1285.741 12.086 93
10 Trade & Service 666.726 8.434 174
No Code Prev Close Change %
1 RELI 266 332 66 24.81
2 SMBR 645 795 150 23.26
3 MTSM 184 226 42 22.83
4 GGRP 342 420 78 22.81
5 SKLT 1,425 1,710 285 20.00
6 AKPI 314 370 56 17.83
7 ENRG 60 70 10 16.67
8 YPAS 350 408 58 16.57
9 FORU 98 114 16 16.33
10 INDY 1,170 1,360 190 16.24
No Code Prev Close Change %
1 PPGL 220 198 -22 -10.00
2 KMDS 492 458 -34 -6.91
3 BRAM 5,100 4,750 -350 -6.86
4 YULE 350 326 -24 -6.86
5 NICK 322 300 -22 -6.83
6 TAMA 179 167 -12 -6.70
7 PGLI 240 224 -16 -6.67
8 GLVA 394 368 -26 -6.60
9 RONY 274 256 -18 -6.57
10 CSMI 540 505 -35 -6.48
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 1,030 1,070 40 3.88
2 TLKM 3,220 3,320 100 3.11
3 SMBR 645 795 150 23.26
4 PPRO 67 70 3 4.48
5 BRPT 955 1,045 90 9.42
6 BBNI 5,675 5,900 225 3.96
7 FREN 68 70 2 2.94
8 BBRI 4,020 4,080 60 1.49
9 ADHI 920 1,025 105 11.41
10 ANTM 1,210 1,255 45 3.72