Portal Berita Ekonomi Senin, 30 November 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:18 WIB. Oil - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 47,15 USD/barel.
  • 16:19 WIB. Oil - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 44,74 USD/barel.
  • 16:18 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,08% terhadap Euro pada level 1,1973 USD/EUR.
  • 16:17 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,08% terhadap Poundsterling pada level 1,3321 USD/GBP.
  • 16:17 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup negatif 2,06% pada level 26.341.
  • 16:16 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 1,60% pada level 2.591.
  • 16:16 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup melemah 0,79% pada level 26.433.
  • 16:15 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup melemah 0,49% pada level 3.391.
  • 16:15 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup melemah 1,96% pada level 2.799.
  • 16:14 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka menguat 0,29% pada level 6.385.
  • 16:14 WIB. Valas - Dollar AS tertahan terhadap Yuan pada level 6,5781 CNY/USD.
  • 16:14 WIB. Valas - Rupiah ditutup melemah 0,21% terhadap Dollar AS pada level 14.120 IDR/USD.
  • 16:13 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,22% terhadap Yen pada level 104,32 JPY/USD.
  • 16:11 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.776 USD/troy ounce. 
  • 15:00 WIB. IHSG - IHSG melemah 2,84% pada penutupan sesi II.

Ekonomi 2021 Pulih Bergantung pada Orang Kaya, Begini Maksudnya...

Ekonomi 2021 Pulih Bergantung pada Orang Kaya, Begini Maksudnya...
WE Online, Jakarta -

Konsumsi swasta, yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia, mengalami tekanan paling dalam selama tahun 2020 akibat kasus pandemi yang terus meningkat. Pada kuartal kedua dan ketiga, konsumsi swasta mengalami kontraksi masing-masing sebesar 5,5% dan 4%.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan bahwa penurunan terdalam terjadi pada konsumsi yang berkaitan dengan leisure, yaitu sektor transportasi dan pergudangan dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.

Baca Juga: 2021 Ekonomi Indonesia Dapat Tumbuh 6%, Ini Skenarionya

Secara kumulatif tiga kuartal pertama, kedua sektor tersebut terkontraksi masing-masing sebesar 15,6% dan 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Kebijakan pemerintah yang melakukan pembatasan sosial dan perilaku masyarakat, khususnya kelas menengah atas, yang mengurangi kegiatan ekonomi untuk mencegah penularan Covid-19, menjadi penyebab utama penurunan konsumsi seluruh golongan pendapatan," kata Faisal, Jakarta, Sabtu (21/11/2020).

Golongan pendapatan menengah atas, yang berkontribusi 82 persen terhadap total konsumsi masyarakat, cenderung menahan belanja mereka. Salah satu indikasi perilaku delayed purchase golongan menengah terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga di perbankan yang mengalami peningkatan.

Sementara itu, golongan pendapatan bawah mengalami penurunan daya beli sejalan dengan turun atau bahkan hilangnya pendapatan mereka selama masa pandemi.

Sepanjang Februari-Agustus 2020, sebanyak 2,56 juta penduduk kehilangan pekerjaan karena Covid-19. Namun, tekanan terhadap konsumsi golongan pendapatan bawah sedikit tertolong oleh Bantuan Sosial pemerintah melalui PEN, baik dalam bentuk transfer barang, uang, dan pemberian subsidi.

Oleh karena itu, pemulihan ekonomi pada 2021 akan ditentukan oleh pemulihan kepercayaan konsumen menengah atas. Tingkat kepercayaan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor, terutama penurunan penularan dan fatality rate pandemi Covid-19, tingkat adaptasi masyarakat terhadap pandemi, serta proses vaksinasi.

Adapun pada tahun 2021, investasi diperkirakan akan kembali tumbuh positif di kisaran 3-4%. "Investor di sektor swasta masih menyesuaikan dengan permintaan domestik yang diperkirakan belum sepenuhnya pulih akibat pandemi, meskipun proses vaksinasi diperkirakan telah berlangsung di Indonesia," terang dia.

Kalaupun terjadi peningkatan permintaan, baik domestik maupun ekspor, kapasitas terpasang saat ini masih cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan tersebut. Sementara itu, realisasi belanja modal pemerintah diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi, sejalan dengan peningkatan alokasi belanja modal pada APBN 2021 yang ditetapkan Rp250 triliun, naik 82 persen dari alokasi tahun 2020 yang mencapai dari Rp137 triliun.

Menurut Faisal, peningkatan ini didorong oleh rencana pemerintah untuk mendorong investasi pemerintah khususnya untuk proyek-proyek yang tertunda pada tahun ini.

Sementara itu, BUMN diperkirakan belum akan melakukan ekspansi secara agresif pada tahun mendatang akibat kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih dan sebagian BUMN, khususnya BUMN Karya, memiliki liabilitas yang meningkat cukup tinggi sehingga alokasi belanja modal mereka masih akan cenderung konservatif.

Namun, sambung dia, di tengah tren perlambatan investasi nasional selama pandemi, beberapa industri manufaktur di Indonesia justru mengalami peningkatan, khususnya industri logam dasar, kimia dasar, dan farmasi.

Peningkatan investasi tersebut, antara lain, disebabkan oleh rangsangan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi sektor pertambangan, termasuk pembangunan smelter. Selain itu, kebutuhan pengobatan dan pelayanan kesehatan yang meningkat akan mendorong peningkatan investasi pada industri kimia dan farmasi.

"Pertumbuhan sektor-sektor tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut pada tahun 2021," imbuh dia.

Partner Sindikasi Konten: Okezone

Baca Juga

Tag: Ekonomi Indonesia, Covid-19

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,785.80 3,748.03
British Pound GBP 1.00 18,939.57 18,749.71
China Yuan CNY 1.00 2,156.80 2,135.08
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,198.64 14,057.36
Dolar Australia AUD 1.00 10,501.31 10,395.42
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,831.92 1,813.67
Dolar Singapura SGD 1.00 10,618.19 10,511.75
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,000.03 16,825.25
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,491.61 3,453.05
Yen Jepang JPY 100.00 13,670.94 13,531.00
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5783.335 23.419 705
2 Agriculture 1288.611 57.286 24
3 Mining 1677.462 40.460 47
4 Basic Industry and Chemicals 892.075 -3.307 80
5 Miscellanous Industry 997.322 -11.719 53
6 Consumer Goods 1888.601 14.282 60
7 Cons., Property & Real Estate 378.502 9.885 95
8 Infrastruc., Utility & Trans. 994.695 7.522 79
9 Finance 1302.222 -4.926 93
10 Trade & Service 697.347 6.891 174
No Code Prev Close Change %
1 KICI 181 234 53 29.28
2 RELI 336 420 84 25.00
3 AIMS 123 153 30 24.39
4 SKLT 1,490 1,850 360 24.16
5 LPKR 166 206 40 24.10
6 AGRO 460 570 110 23.91
7 KONI 374 444 70 18.72
8 ATIC 590 690 100 16.95
9 INPP 650 760 110 16.92
10 PNSE 980 1,140 160 16.33
No Code Prev Close Change %
1 BALI 1,000 930 -70 -7.00
2 DAYA 488 454 -34 -6.97
3 PANR 160 149 -11 -6.88
4 EPAC 160 149 -11 -6.88
5 UANG 234 218 -16 -6.84
6 DYAN 59 55 -4 -6.78
7 ABDA 6,400 5,975 -425 -6.64
8 MTSM 212 198 -14 -6.60
9 BUMI 76 71 -5 -6.58
10 VIVA 61 57 -4 -6.56
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 1,075 1,125 50 4.65
2 BRIS 1,375 1,470 95 6.91
3 PPRO 98 98 0 0.00
4 TLKM 3,470 3,460 -10 -0.29
5 AGRO 460 570 110 23.91
6 KBAG 51 50 -1 -1.96
7 APLN 170 180 10 5.88
8 ASII 5,650 5,550 -100 -1.77
9 ASRI 234 250 16 6.84
10 BBRI 4,290 4,270 -20 -0.47