Wapres Ajak Ulama Bicara Pentingnya Vaksin Corona

Wapres Ajak Ulama Bicara Pentingnya Vaksin Corona Kredit Foto: MUI

Wakil Presiden Prof KH Ma’ruf Amin meminta seluruh ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam gencar mensosialisasikan pentingnya vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat.

Menurutnya, program vaksinasi ini sangat penting dalam melawan dan memutus mata rantai penyebaran virus Covid19. “Vaksinasi Covid-19 akan dimulai awal tahun depan,” katanya dalam penutupan Musyawarah Nasioal (Munas) X MUi di Hotel Sultan, Jakarta, kemarin.

Ma’ruf mengakui, program vaksinasi nasional secara serentak dan masif belum pernah dilakukan pemerintah sebelumnya. karena itu, diperlukan kebersamaan para tokoh masyarakat dan ormas-ormas untuk ikut memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya vaksinasi.

“Kegiatan yang sangat krusial ini Insya Allah akan mulai kita laksanakan awal tahun depan,” jelasnya.

Baca Juga: IDI Berharap Pemerintah Sediakan Vaksin Covid-19 untuk Seluruh Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Wapres juga mengapresiasi MUI yang ikut bersama pemerintah dalam memverifikasi uji kehalalan dan klinis vaksin Covid-19 buatan Sinovac, China.

Bersama tim dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berperan sebagai pemeriksa kehalalan vaksin tersebut sebelum tiba di indonesia. Terkait fatwa halal vaksin Covid-19, mantan Rais ‘aam Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) ini meminta MUi bekerja cepat menerbitkan fatwa, agar tidak menghambat program vaksinasi.

Dia berharap, MUI segera mengeluarkan fatwa tentang kehalalan atau kebolehan digunakannya vaksin Covid-19 sebelum dilakukan vaksinasi.

Sebelumnya, Ma’ruf mengatakan, vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu ikhtiar memutus mata rantai pemularan Covid-19. Menurutnya, pengobatan dibagi menjadi dua, yakni kuratif dan preventif. "Kuratif adalah pengobatan jika sudah terjadi penyakit. Sedangkan preventif, sebelum terjadi penyakit."

Terkait upaya pengobatan, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menjelaskan, dalam syariat islam memang ada perintah hadisnya.

“Berobatlah kalian. Allah tidak menetapkan penyakit, kecuali ada obatnya. setiap penyakit ada obatnya, cuma sudah ditemukan atau belum ditemukan saja. kecuali yang tidak ada obatnya penyakit pikun,” sebutnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini