Survei Michigan Ross di Indonesia: Leadership Menentukan Keberhasilan Bisnis di Era Pasca-Covid-19

Survei Michigan Ross di Indonesia: Leadership Menentukan Keberhasilan Bisnis di Era Pasca-Covid-19 Kredit Foto: Unsplash/Rawpixel

Bisnis dan organisasi di seluruh dunia telah mengalami perubahan seismik yang belum pernah terjadi sebelumnya karena pandemi Covid-19. Akibatnya, ada peningkatan urgensi untuk mengidentifikasi kebutuhan generasi pemimpin berikutnya dan mengeksplorasi keterampilan penting yang diperlukan untuk mempersiapkan mereka mengarahkan bisnis menuju keberlanjutan dan kesuksesan.

The University of Michigan Ross School of Business baru-baru ini menyurvei para pemimpin bisnis di Indonesia untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi keterampilan vital yang dibutuhkan untuk para pemimpin generasi berikutnya, dan mewawancarai pembuat keputusan senior, termasuk pendiri, pemilik bisnis, anggota dewan, C-suite, dan direktur di berbagai perusahaan dengan berbagai ukuran di Indonesia. Baca Juga: Rubel Digital Disebut Mampu Jadi Penyelamat Bisnis Kecil dan Menengah

Survei tersebut mengidentifikasi keterampilan kepemimpinan yang diperlukan pada generasi pemimpin berikutnya untuk memastikan kesiapan mereka di masa depan.

Ketika diminta untuk memilih antara soft skill, hard skill, atau kombinasi yang setara dari keduanya sebagai kebutuhan terpenting untuk bisnis saat ini, 39% responden survei memilih soft skill sementara 53% memilih kombinasi keduanya. Hanya 8% responden percaya bahwa keterampilan teknis adalah yang paling penting dalam hal kesiapan pemimpin bisnis di masa depan. Baca Juga: Di Tengah Ekonomi yang Tak Pasti, Perusahaan Minuman Ini Fokus Garap Bisnis Utama

Di antara para pemimpin bisnis Indonesia, 60% menunjukkan kreativitas sebagai keterampilan paling penting bagi seorang pemimpin untuk memimpin perusahaannya di zaman yang terus berkembang dan ekosistem bisnis yang semakin menantang. Mereka yang disurvei juga memandang kecerdasan digital atau paham teknologi (53%), fleksibilitas atau kelincahan (53%), perencanaan jangka panjang (51%), dan kepositifan atau optimisme (50%) sebagai keterampilan utama bagi generasi pemimpin berikutnya.

Menariknya, responden yang sama mengidentifikasi kemampuan untuk membuat keputusan sulit, ketajaman bisnis yang komprehensif, komitmen untuk pembelajaran berkelanjutan, komunikasi yang efektif, dan fleksibilitas/kelincahan sebagai keterampilan yang luput dari generasi pemimpin berikutnya. Kesenjangan keterampilan tersebut memberikan kesempatan unik bagi institusi seperti. University of Michigan Ross School of Business untuk meningkatkan keterampilan pemimpin bisnis berikutnya.

Chief Executive Education Officer of the University of Michigan Ross School of Business, Melanie Weaver Barnett, mengatakan bahwa Covid-19 telah mengubah perilaku konsumen selamanya, memaksa bisnis untuk memandang keterampilan sebagai investasi agar tetap relevan dan kompetitif pasca krisis.

"Survei terbaru kami di Indonesia mengidentifikasi campuran soft skill, termasuk kreativitas, kelincahan, dan positivisme, dikombinasikan dengan keahlian teknis sebagai hal yang dianggap paling penting oleh para pemimpin bisnis untuk kesuksesan masa depan," kata Melanie, Rabu (9/12/2020).

“Kami menyadari bahwa beberapa dari apa yang disebut soft skill ditunjang oleh hard skill yang mendasari mereka. Misalnya, kecakapan digital/kecakapan teknologi tentu saja meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan. Tampaknya ada kesadaran bahwa soft skill-lah yang memberi keseimbangan," katanya.

Melanie menuturkan, Michigan Ross telah mengadakan hampir 30 program di Indonesia, "Keseluruhan latihan ini telah memberikan wawasan berharga yang akan memungkinkan kami mengembangkan program yang bahkan lebih disesuaikan dengan konteks bisnis khusus Indonesia dan kesenjangan keterampilan," tuturnya.

Melanie mengatakan bahwa kemitraan antara klien khusus dengan Michigan Ross Executive Education dimulai dengan mengajukan pertanyaan yang tepat untuk mengungkap akar masalah yang sebenarnya dan bersama-sama membuat desain dan pendekatan dengan klien. Baik di tempat secara offline atau online, difasilitasi dalam sehari, seminggu, atau dalam beberapa modul yang mencakup satu tahun atau lebih, pendekatan keserbagunaan dan action-learning akan mendapatkan hasil yang dituju.

"Solusi Michigan Ross menggabungkan aktivitas pengalaman, simulasi, keterlibatan perusahaan, pembelajaran di kelas, proyek bisnis, pelatihan eksekutif, pembelajaran online, pembicara luar, dan banyak lagi," katanya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini