Jangan Berlebihan Hadapi Rizieq Shihab, Fadel Muhammad: Biasa-biasa Saja

Jangan Berlebihan Hadapi Rizieq Shihab, Fadel Muhammad: Biasa-biasa Saja Kredit Foto: MPR

Wakil Ketua MPR, Fadel Muhammad, meminta agar polisi tidak berlebihan dalam menangani kasus Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS).

Ia menilai HRS adalah warga biasa yang tak perlu diperlakukan seperti halnya musuh negara. Sebab, jika perlakuan terhadap HRS berlebihan, efeknya akan membuat takut rakyat.

Baca Juga: Polisi: Intinya, Hak-hak Rizieq Shihab Sudah Diberikan

"Penanganan Habib Rizieq jangan berlebihan. Dia kan warga biasa. Jangan anggap dia sebagai musuh. Biasa-biasa saja," kata Fadel, Sabtu (12/12/2020).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu menambahkan, pada 17 Desember 2020 mendatang, seluruh pimpinan MPR akan menggelar pertemuan khusus membahas masalah politik, hukum, dan keamanan nasional.

"Akhir-akhir ini suasana tidak bagus, tegang. Kalau buka medsos rasanya kan risih," pungkasnya.

Akibat perlakuan yang tidak biasa yang dialami HRS, lanjut Fadel, akhirnya muncul kecurigaan bahwa pemerintah tengah melakukan pengalihan isu.

"Banyak yang tanya apakah ini tidak pengalihan isu dari pemerintah. Jadi, enggak enak saya yang di MPR. Habib Rizieq itu sudah ada sejak zaman Pak Harto. Kenapa baru sekarang," terangnya.

Ia mengingatkan, kalau di masa pandemi saat ini, hendaknya semua pihak mengedepankan kepentingan rakyat yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan ekonomi. "Masalah kita sekarang masalah kesehatan dan ekonomi. Berat sekali karena terjun bebas," tuturnya.

Selain itu, Wakil Ketua MPR dari unsur DPD RI itu setuju jika pemerintah membentuk tim independen untuk mengusut tuntas kasus kematian enam anggota Laskar FPI yang tewas terbunuh saat mengawal HRS di Jalan Tol Karawang-Cikampek.

"Saya setuju dibuat tim khusus. Tim independen untuk mengusut. Supaya keluarga dapat kepastian. Karena itu berlebihan sampai mengilangkan nyawa orang," tutupnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini