Dapat Serangan Masif, Lembaga-lembaga Top AS Kelimpungan Usai Keamanan Sibernya Bobol

Dapat Serangan Masif, Lembaga-lembaga Top AS Kelimpungan Usai Keamanan Sibernya Bobol Kredit Foto: Unsplash

Perusahaan keamanan dunia maya yang mengidentifikasi peretasan skala besar terhadap lembaga pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan serangan siber itu benar-benar mempengaruhi sekira 50 organisasi.

Kevin Mandia, CEO FireEye, mengatakan bahwa sementara sekira 18.000 organisasi memiliki kode berbahaya di jaringan mereka, dan 50 organisasi tersebut yang mengalami pembobolan masif.

Baca Juga: Gak Kompak, Trump dan Pompeo Beda Suara Soal Dalang Serangan Siber AS

Departemen Keuangan AS dan departemen keamanan dalam negeri, departemen luar negeri, dan departemen pertahanan diketahui telah menjadi sasaran.

Kepada CBS News, Mandia mengatakan bahwa serangan siber itu "sangat konsisten" dengan apa yang diketahui pejabat AS tentang pekerjaan badan intelijen luar negeri Rusia, SVR.

"Saya pikir ini adalah orang-orang yang kami tanggapi di tahun 90-an, di awal tahun 2000-an. Ini adalah permainan yang berkelanjutan di dunia maya," katanya sebagaimana dilansir BBC.

Dia mengatakan serangan terhadap perusahaan manajemen teknologi informasi (TI) berbasis di Texas, SolarWinds Orion, yang menjadi ‘perangkat’ sumber peretasan, memperlihatkan bukti paling awal bahwa “serangan ini telah direncanakan”.

Ini dimulai dengan "uji coba" pada Oktober 2019 ketika "kode tidak berbahaya" diubah.

"Kemudian pada Maret, operator di balik serangan ini memasukkan kode berbahaya ke dalam rantai pasokan," katanya. "Yang dimasukkan ke sana dan itu adalah pintu belakang (backdoor) yang berdampak pada semua orang".

Peretas berhasil mendapatkan akses ke organisasi besar dengan meretas perangkat lunak manajemen jaringan yang dikembangkan oleh SolarWinds.

Akses tersebut dapat memungkinkan para peretas untuk mengambil kendali tingkat tinggi atas jaringan organisasi yang menggunakan perangkat lunak tersebut, tetapi tampaknya telah digunakan untuk mencuri data daripada untuk dampak yang mengganggu atau merusak.

Terlepas dari penolakan Rusia atas klaim "tak berdasar", banyak komunitas intelijen AS mencurigai pemerintah Rusia yang bertanggung jawab.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyalahkan Rusia atas peretasan tersebut, begitu pula dengan para ketua Senat dan komite intelijen DPR.

"Kami dapat mengatakan dengan cukup jelas bahwa Rusia-lah yang terlibat dalam aktivitas ini," kata Pompeo pada Jumat (18/12/2020). Dia mengatakan bahwa Rusia sedang mencoba untuk merusak cara hidup orang Amerika, dan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin "tetap merupakan risiko yang nyata".

Namun, dalam dua cuitan pada Sabtu (19/12/2020), Presiden Trump justru mengisyaratkan keterlibatan China.

"Peretasan Cyber jauh lebih hebat di Media Berita Palsu daripada di kenyataan,” cuit Trump.

"Saya telah diberi pengarahan penuh dan semuanya terkendali dengan baik. Rusia, Rusia, Rusia adalah nyanyian prioritas ketika sesuatu terjadi karena Lamestream, untuk sebagian besar alasan keuangan, ketakutan untuk membahas kemungkinan bahwa itu mungkin China (mungkin!)."

Sementara itu Presiden terpilih AS, Joe Biden telah berjanji untuk menjadikan keamanan siber sebagai prioritas utama pemerintahannya setelah dia dilantik pada 20 Januari 2021 mendatang.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Okezone Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Okezone. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Okezone.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini