Rangkaian Kejahatan Siber Tahun 2020 di Asia Tenggara Versi Kaspersky

Rangkaian Kejahatan Siber Tahun 2020 di Asia Tenggara Versi Kaspersky Foto: Unsplash/Mika Baumeister

Pakar keamanan dari Tim Riset dan Analisis Global (Global Research and Analysis Team GReAT) Kaspersky memberikan gambaran bagaimana pelaku kejahatan siber memanfaatkan pandemi tahun 2020 di wilayah Asia Tenggara.

Sebagaimana diketahui bahwa pandemi covid-19 membuat ritme kehidupan di tengah masyarakat di kawasan tersbut terguncang akibat perubahan besar yang terjadi secara tiba-tiba. Terlepas dari prospek yang sedikit muram, kebijakan di seluruh Asia Tenggara berhasil memaksa publik dan sektor bisnis untuk segera beralih meningkatkan penggunaan teknologi dan online untuk segala hal.

Baca Juga: Potensi Ancaman Siber di Sektor Pendidikan Versi Kaspersky

“Walaupun pada tahun 2020 telah terlihat adopsi teknologi yang tak tertandingi, dan peningkatan permukaan serangan yang penuh persiapan sehingga berpotensi besar untuk berhasil. Mereka yang dengan cepat mengikuti transformasi ini juga harus waspada untuk melindungi diri sendiri. Seperti biasa, rekayasa sosial tetap menjadi salah satu vektor serangan yang paling efektif dan seperti halnya teknologi, fokus yang kuat pada edukasi dan kesadaran sangat dibutuhkan lebih dari sebelumnya,” kata Muhammad Umair, Peneliti Keamanan untuk Tim Riset dan Analisis Global (GReAT ) Asia Pasifik di Kaspersky dalam keterangan persnya, Senin (4/1/2021).

Sama seperti negara-negara di dunia, masyarakat di Asia Tenggara terpaksa untuk tetap tinggal di dalam rumah, tanpa menghentikan aktivitas mereka yang akhirnya beralih secara digital. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa 40 juta pengguna Internet di Asia Tenggara untuk pertama kalinya beraktivitas online secara rutin tahun ini, banyak di antaranya berasal dari daerah non-kota di Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Masyarakat Asia Tenggara, merupakan di antara pengguna Internet paling aktif di dunia, selalu digital namun adopsi tidak menyebar layaknya ketika COVID-19 melanda. Sekarang, dengan 400 juta pengguna internet yang merupakan hampir 70% dari populasi kawasan ini, individu dan bisnis sekarang secara praktis melakukan segala sesuatu secara online bahkan  termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai digital harus terjun ke dunia daring.

Rangkuman dari pemantauan Kaspersky sepanjang tahun 2020 menunjukkan bahwa serangan dunia maya teratas di Asia Tenggara adalah cryptomining, penipuan phishing, ransomware bertarget, dan DDoS (penolakan layanan terdistribusi). Tidak ada diantara serangan tersebut termasuk baru, tetapi teknik ini telah terbukti efektif karena pelaku kejahatan siber hanya perlu memanfaatkan rantai terlemah - faktor manusia.

Pada tahun 2020, wilayah Asia Tenggara dilanda serangan dunia maya besar-besaran yang mengakibatkan terbukanya data rahasia sebagai berikut:

1      Lebih dari 310.000 detail kartu kredit yang dikeluarkan oleh bank-bank ternama di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, terlibat dalam pelanggaran data pada bulan Maret.

2      Di bulan yang sama, informasi pribadi dari 91 juta pengguna platform ecommerce terbesar di Indonesia bocor.

Di Thailand, 8,3 miliar pelanggan jaringan seluler terbesar di negara tersebut terekspos pada bulan Mei.

4      Platform toko online yang berbasis di Singapura mengalami pelanggaran data yang memengaruhi 1,1 juta akun pada bulan Oktober.

Pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan ketakutan orang-orang terhadap COVID-19 dan memanfaatkan perawatan kesehatan sebagai kedok berbagai serangan yang menargetkan peralatan medis di negara-negara tempat transformasi digital baru saja dimulai. Basis data pemerintah dengan data pribadi 230.000 peserta tes COVID-19 di Indonesia telah dilanggar pada Mei. Sementara itu di Thailand, sebuah rumah sakit mengonfirmasi bahwa catatan pasien selama empat tahun terkena serangan pada bulan September.

“Kami tidak melihat ada yang berubah dalam waktu dekat. Orang-orang di wilayah Asia Tenggara akan tetap bersosialisasi dan selalu mencari cara untuk menjadi produktif dengan menggunakan teknologi. Dalam dunia bisnis, kami melihat bahwa pekerjaan jarak jauh akan dilakukan di sebagian besar sektor bahkan setelah pandemi mereda sekalipun. Sekarang adalah waktu untuk merefleksikan pelajaran tahun 2020 dan kami menyarankan perusahaan untuk mulai membuat strategi keamanan jika sebelumnya tidak tersedia, atau merevisi yang sudah ada agar secara efektif dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dan sebagai upaya melindungi tenaga kerja," kata Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini