Kuba Lagi-lagi Dipandang Pro-Terorisme di Mata AS, Kenapa?

Kuba Lagi-lagi Dipandang Pro-Terorisme di Mata AS, Kenapa? Foto: Unsplash/Hp koch

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, mengumumkan Kuba sebagai negara sponsor terorisme, Senin (11/1/2021). Penetapan ini berasal dari tuduhan bahwa Kuba ikut campur memberikan dukungan ke pemerintahan Venezuela.

"Untuk berulang kali memberikan dukungan untuk tindakan terorisme internasional dalam memberikan perlindungan yang aman bagi teroris," ujar Pompeo dikutip dari Aljazirah.

Baca Juga: Twitter Kena Imbasnya, Saham Merosot 7 Persen Pasca-menskors Akun Trump

Padahal, Kuba oleh Presiden Barack Obama telah dicabut statusnya sebagai negara yang mensponsori terorisme. AS dan Kuba setelah itu pun kembali membangun hubungan diplomatik.

"Dengan tindakan ini, kami akan sekali lagi meminta pertanggungjawaban pemerintah Kuba dan mengirimkan pesan yang jelas, rezim Castro harus mengakhiri dukungannya terhadap terorisme internasional dan subversi terhadap keadilan AS," kata Pompeo.

Penunjukan Kuba akan menghukum orang dan negara yang terlibat dalam perdagangan tertentu dengan negara tersebut. Langkah tersebut juga membatasi bantuan luar negeri AS, melarang ekspor dan penjualan pertahanan, dan memberlakukan pengawasan tertentu pada ekspor item penggunaan ganda atau mengacu pada teknologi yang dapat digunakan untuk tujuan damai serta militer.

Keputusan pemerintahan Donald Trump ini akan membuat sulit Presiden terpilih Joe Biden. Dia telah berencana untuk mendekatkan Washington ke hubungan normal dengan Havana, termasuk mengurangi pembatasan perjalanan, investasi, dan pengiriman uang.

Sebelum memberikan kembali label negara sponsor terorisme, AS baru-baru ini menambahkan bank Kuba ke daftar entitas terlarang. Washington menuduh bahwa lembaga keuangan tersebut memiliki hubungan dengan militer Kuba dan keuntungannya membantu mendanai campur tangan di Venezuela.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, menolak label yang diberikan AS. Dia menyebut langkah tersebut sebagai tindakan munafik dan sinis. "Oportunisme politik AS diakui oleh mereka yang benar-benar prihatin tentang momok terorisme dan korbannya," ujarnya melalui akun Twitter.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini