Washington Masuki Status Darurat, Ternyata Ramalan FBI Benar Adanya?

Washington Masuki Status Darurat, Ternyata Ramalan FBI Benar Adanya? Foto: Reuters/Stephanie Keith

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (11/1/2021) malam menyetujui deklarasi status darurat di ibu kota AS, Washington, DC. Langkah ini menyusul laporan Biro Investigasi Federal (FBI) yang memperkirakan akan ada kerusuhan bersenjata di 50 negara bagian AS menjelang pelantikan presiden baru AS, Joe Biden, pada 20 Januari.

Laman Aljazirah menyebutkan, status darurat ini memungkinkan pihak berwenang tingkat federal memperkuat pengamanan hingga 24 Januari di ibu kota.

Baca Juga: Waspadai Pelantikan Joe Biden, Walkot Washington Minta Tutup Monumen Washington

Secara khusus, badan penanganan kondisi darurat tingkat federal yaitu Federal Emergency Management Agency (FEMA) "mengidentifikasi, memobilisasi, dan menyediakan perlengkapan dan sumber daya yang diperlukan untuk memberantas dampak dari situasi darurat".

Tindakan terbaru ini menyikapi pendukung Trump yang menyerbu gedung Kongres yaitu Captiol Hill pada 6 Januari lalu. Peristiwa itu menewaskan lima orang termasuk satu orang petugas polisi Capitol Hill. Gedung ini juga akan dipakai untuk pelantikan Biden dan wakilnya, Kamala Harris.

Akhir pekan lalu, wali kota Washington, DC yaitu Muriel Bowser mengirim surat permohonan bantuan kepada Kementerian Keamanan Dalam Negeri (DHS).

Ia meminta kementerian tersebut untuk memperluas cakupan kerja sehingga badan federal dan daerah bisa lebih siap menjelang pelantikan Biden. Bowser juga meminta  FBI memberi briefing harian tentang ancaman dan intelijen.

Ia meminta briefing diberikan 11 Januari hingga 24 Januari.

"Periode rencana pelantikan kali ini harus sangat berbeda dari yang lain," kata Bowser, Senin. Di tengah persiapan pelantikan Biden, penjabat menteri DHS Chad Wold mengundurkan diri terhitung Senin malam, pukul 23.59 waktu AS.

Posisinya akan diisi oleh ketua FEMA, Pete Gaynor. Namun, Wolf mengatakan ia sudah memerintahkan pasukan pengawal presiden yaitu Secret Service, untuk mulai operasi National Special Security Event pada Rabu (13/1/2021) hingga pelantikan presiden.

Ini jauh lebih awal dibandingkan jadwal sebelumnya yang biasanya dimulai 19 Januari. Kali ini, Capitol Hill akan ditutup selama pelantikan. Pelantikan 20 Januari itu bertema "Persatuan Amerika".

Sementara proses impeachment atau pemakzulan Trump oleh House of Representative terus menggelinding. Dakwaan terhadap Trump adalah "memantik perlawanan dengan kekerasan terhadap pihak berwenang".

House yang saat ini dikuasai suara mayoritas Partai Demokrat mendesak Wakil Presiden Mike Pence dan kabinet untuk mengaktifkan Amandemen ke-15 Konstitusi AS. Amandemen tersebut memungkinkan Trump dilengserkan dan digantikan Pence. Namun, pada Senin Trump dan Pence dilaporkan bertemu di Gedung Putih setelah sepekan mereka berdiam diri dan saling tuding.

Keduanya dilaporkan sepakat untuk terus bekerja pada sisa hari mereka menjabat. Ini memberi indikasi, Pence tidak akan mengaktifkan amandemen ke-25.House diperkirakan akan melakukan cari lain yaitu melalui voting. Debat akan mulai digelar Rabu (13/1/2021) waktu AS.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini