Jangan Salah Kaprah! Investasi Saham Pakai Uang Panas, Bisa-Bisa Berujung Nahas!

Jangan Salah Kaprah! Investasi Saham Pakai Uang Panas, Bisa-Bisa Berujung Nahas! Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Investasi menjadi kegiatan yang menggiurkan bagi masyarakat, terlebih lagi dengan adanya iming-iming mendapat keuntungan besar. Tak jarang, masyarakat pun mengambil langkah ekstrem berupa penggunaan uang panas untuk berinvestasi, termasuk investasi saham

Memakai uang arisan, pinjaman online, hingga uang hasil gadai barang dan surat berharga pun akirnya ditempuh untuk memenuhi hasrat berinvestasi. Padahal, investasi menggunakan uang panas semacam ini sangat tidak dianjurkan. Bagaimanapun, investasi tidak melulu menjadi jalan pintas untuk mendapat keuntungan karena tentu ada risiko kerugian yang menyertainya. Baca Juga: Jadi Bulan-Bulanan, Bumi Resources, Kimia Farma, dan Antam Masih Berdarah-Darah!

Fenomena semacam ini pun turut menjadi perhatian pihak regulator, dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI). Kepada awak media, Bursa mengimbau masyarakat untuk menghindari penggunakan dana pinjaman ketika berinventasi. Selain dana pinjaman atau utang, investasi sepatutnya juga tidak menggunakan dana yang dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan dana untuk kebutuhan jangka pendek lainnya. Baca Juga: Gak Ada Asap Kalau Gak Ada Api: Ternyata Ini Sebabnya Saham Unilever Berhasil Lawan Arus!

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, kembali menegaskan bahwa penting juga bagi masyarakat untuk menghitung dan mengelola risiko investasi. Bagaimanapun, risiko kerugian selalu ada bersama dengan potensi keuntungan dalam berinvestasi. 

"Kami selalu mengingatkan kepada masyarakat dan para investor bahwa berinvetasi saham selai berpotensi memberikan keuntungan yang baik juga mengandung risiko kerugian," tegas Hasan pada Selasa, 19 Januari 2021.

Ia menambahkan, pemikiran yang sebaiknya ditanamkan oleh investor adalah berinvestasi dalam jangka panjang, artinya tidak berorientasi untuk mendapat keuntungan dalam waktu singkat. Tidak lupa juga ia mengingatkan kepada investor untuk terus belajar dan meningkatkan pemahamannya dalam berinvestasi saham. Hal itu bisa dilakukan di tengah ruang edukasi yang saat ini banyak tersedia, seperti sekolah pasar modal (SPM).

"Hendaknya para investor juga jangan terlalu percaya diri dan berorientasi pada mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya dalam jangka pendek, instan," sambungnya lagi.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terkini