Catat!! Media Wajib Perangi Radikalisme dan Hoax

Catat!! Media Wajib Perangi Radikalisme dan Hoax Kredit Foto: Antara/M Agung Rajasa

Hoaks dan radikalisme menjadi salah satu ancaman nyata yang dihadapi masyarakat di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat. Oleh karena itu, semua elemen, tak terkecuali media, harus berjuang bersama-sama untuk memerangi hoaks dan radikalisme. 

Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari, mengatakan, media memiliki peranan penting menghadapi dua hal tersebut. Dimana media harus menjadi pengecek fakta alias fact checker dan sumber informasi yang lebih valid dibandingkan media sosial (medsos). Baca Juga: Bikin Hati Sejuk, Begini Jurus Jitu Ala Dokter Reisa Agar Terhindar Hoaks Covid

“Media harus memverifikasi atau membandingkannya dengan berita yang sama dari sumber yang berbeda,” kata Atal dalam webinar bertajuk Peranan Media dalam Menghadapi Radikalisme dan Hoax yang diselenggarakan GenPI.co dan JPNN.com, Selasa (26/1/2021).

Dia pun mengimbau meida untuk tidak melakukan glorifikasi dalam  pemberitaan, tetapi memilih diksi yang lembut dan tidak menyudutkan pihak-pihak tertentu. Pers juga harus berperan aktif mencegah radikalisme dan terorisme karena dua hal itu merupakan kejahatan luar biasa. Menurutnya radikalisme dapat direduksi jika media massa menghindari posisi intensifier of conflict (penguat konflik). Baca Juga: Beritakan Kemenangan Joe Biden, Media Asal Korut Ambil Langkah Tak Terduga

“Jika ada perbedaan pandangan di masyarakat, jangan ikut-ikutan memanas-manasi atau berpihak pada suatu pihak,” ujar Atal.

Sementara itu, Ketua Komisi Hubungan Antarlembaga dan Internasional Dewan Pers Agus Sudibyo menjelaskan, teroris memanfaatkan pemberitaan media massa untuk menebarkan ketakutan dan mendelegetimasi penegak hukum. Dia juga mengimbau pers untuk menjalankan tugasnya sesuai kode etik jurnalistik.

“Jurnalisme bukan tujuan, melainkan sarana untuk mencapai tujuan yan lebih tinggi, seperti kemanusiaan dan keadilan,” tutur Agus.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini