Meski Masih Pandemi, Begini Ceruk Baru Sawit di Afrika Selatan

Meski Masih Pandemi, Begini Ceruk Baru Sawit di Afrika Selatan Foto: Antara/Budi Candra Setya

Sektor ekonomi, sosial, dan budaya kawasan Afrika Selatan terus berkembang pasca lepas dari kekangan politik apartheid sejak 1994 silam. Tercatat sejak 1999, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara tersebut mencapai 4 persen setiap tahunnya dengan jumlah populasi sebanyak 57,9 juta jiwa.

Bertumbuhnya ekonomi Afrika Selatan telah mendorong kebutuhan minyak dan lemak dalam negeri juga terus meningkat. Buktinya, pada tahun 2019, kebutuhan minyak nabati di Afrika Selatan mampu mencapai 1,4 juta ton.

Baca Juga: Sawit, Anugerah di Tanah Indonesia Sejak Zaman Kolonial

Sejatinya, pada 2019, Afrika Selatan merupakan produsen minyak bunga matahari dengan produksi sebanyak 256 ribu ton dan juga mampu memproduksi 222 ribu ton minyak kedelai. Namun menurut catatan Malaysian Palm Oil Council (MPOC), konsumsi minyak nabati di wilayah tersebut lebih tinggi dibandingkan produksinya, sehingga kekurangan pasokan harus dipenuhi dengan mengimpor minyak nabati dari Uni Emirat (UE) dan Argentina.

Selain mengimpor minyak bunga matahari dan minyak kedelai, Afrika Selatan juga mengimpor minyak sawit terutama dari Indonesia dan Malaysia. Pada 2019 lalu, minyak sawit tercatat berkontribusi sebesar 54 persen terhadap pangsa impor minyak dan lemak di Afrika Selatan. 

Dikala masifnya pandemi Covid-19, pasar minyak dan lemak di Afrika Selatan belum begitu terdampak, meskipun operasional di pelabuhan mengalami perlambatan. Sektor HORECA (Hotel, Ritel, dan Cafe) justru mengalami kondisi sulit akibat adanya penerapan kebijakan lockdown.

Akibatnya, pembelian skala besar dari sektor HORECA diperkirakan terkena dampak negatif karena pembatasan di wilayah perkotaan yang masih terus berlanjut. Namun demikian, sebagai gantinya, industri lokal tumbuh, menyusul adanya peningkatan konsumsi rumah tangga dan produk pangan seiring dengan meningkatnya permintaan pangan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Meskipun masih harus hidup berdampingan dengan Covid-19, bukan berarti pasar minyak sawit Afrika Selatan tidak berpotensi menjadi pasar potensial bagi minyak sawit Indonesia.

Merujuk catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), hubungan diplomasi antara Indonesia dan Afrika Selatan telah dimulai sejak Agustus 1994 dan kedua negara juga merupakan anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan masuk dalam kelompok G-20.

Dan sejak 2011 lalu, Afrika Selatan telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia di wilayah benua Afrika, dengan pangsa pasar mencapai 22,18 persen dari total perdagangan. Perdagangan antar kedua negara mengalami peningkatan yang stabil selama beberapa tahun terakhir dan berpotensi terus tumbuh.

Tercatat, Afrika Selatan juga bisa menjadi hub (penghubung), bagi negara-negara lain yang ada disekitarnya seperti Angola, Bostwana, Lesotho, Malawi, Mozambique, Namibia, Swaziland, dan Zimbabwe.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini