Nyungsep, Laba Bersih BRI Nyungsep 45,7% di 2020 Gegara Covid-19

Nyungsep, Laba Bersih BRI Nyungsep 45,7% di 2020 Gegara Covid-19 Kredit Foto: Sufri Yuliardi

PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk atau BRI mencatatkan penurunan laba bersih di tahun 2020 sebesar 45,7% menjadi Rp18,66 triliun. Adapun pada tahun 2019, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp34,37 triliun.

"Dibanding tahun lalu pasti ada penurunan, bahkan kita ada satu bulan nggak ambil laba sama sekali, karena kita restrukturisasi dan lainnya. Tren restrukturisasi menurun dan laba jadi tumbuh 14,02% (dibandingkan kuartal III 2020)," ujar Direktur Utama BRI Sunarso di Jakarta, Jumat (29/1/2021).

Merosotnya laba BRI tak lepas dari pandemi Covid-19 yang memberikan dampak luar biasa besar ke perekonomian, dan semua sektor industri. Menurutnya, krisis tahun lalu merupakan krisis yang terberat apabila dibandingkan dengan krisis sebelumnya.

Baca Juga: Kredit Mikro BRI Tumbuh 14,18% di Tengah Pandemi Covid-19

"Kita semua tahu dan menyadari ekonomi dunia berjuang pulih akibat krisis pandemi. Tahun lalu terberat kita alami dan rasakan, bahkan krisis tahun lalu lebih buruk dari 1998, 2008 maupun 2013. Tahun lalu perekonomian pun alami kontraksi," papar Sunarso.

Meski demikian, Sunarso memastikan fundamental BRI masih sangat kuat. Hal ini terlihat dari aset yang mencapai Rp.1.511,81 triliun pada akhir Desember 2020. Kondisi permodalan BRI Group pun semakin kuat dengan CAR berada di level 21,17 persen.

Tahun ini BRI optimistis kredit mampu tumbuh lebih baik diatas rata-rata industri nasional, dengan faktor pendukungnya yakni LDR yang masih terjaga di level 83,70 persen. Hal ini sejalan dengan perbaikan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga yang menjadi faktor utama pendorong permintaan kredit.

Strategi yang diambil BRI dengan fokus pada penyelamatan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta menjadi mitra utama pemerintah dalam mendukung keberhasilan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) nyatanya diapresiasi oleh para investor.

Hal tersebut tercermin dari peningkatan harga saham BBRI yang telah melewati harga sebelum pandemi bahkan menembus harga tertingginya (all time high). Kenaikan harga saham BBRI tersebut menjadikan BRI sebagai emiten BUMN pertama yang kapitalisasi pasarnya menembus angka Rp 600 triliun, atau lebih tepatnya Rp 603,06 triliun pada 20 Januari 2021 yang lalu.

“Dengan kondisi fundamental yang sehat dan kuat, BRI Group makin optimistis bisa memberikan dan men-deliver value kepada seluruh stakeholders dengan tetap menjadi mitra utama pemerintah dalam upaya membangkitkan perekonomian nasional. BRI memang fokusnya kepada bisnis mikro, namun memberikan dampak makro terhadap perekonomian Indonesia,” tutupnya.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini