Jurus Adaptasi Industri Logsitik Hadapi Pandemi

Jurus Adaptasi Industri Logsitik Hadapi Pandemi Foto: Boyke P. Siregar

Pandemi Covid-19 telah mendisrupsi semua industri di Indonesia, tak terkecuali industri logistik. Para pelaku usaha pun harus mengambil langkah cepat untuk beradaptasi agar bisa bertahan selama pandemi.

Disrupsi di industri logistik sendiri bisa dilihat dari berkurangnya loading cargo dari trailer dan kontainer. Hal itu bisa terjadi akibat adanya pembatasan transportasi akibat perusahaan harus menegakkan keamanan yang lebih tinggi.

Baca Juga: Logistik E-Commerce: Harapan Bisnis di Indonesia Wujudkan Akselerasi Transformasi Digital

Hasilnya, membuat rantai pasok terganggu dan berdampak pada penurunan volume kontainer di berbagai daerah. Contohnya, di saat sedang hobi bersepeda booming, tetapi karena rantai pasok terganggu, seorang penghobi sepeda harus berebut demi mendapatkan part sepeda incarannya.

Dalam webinar bedah buku Circle of Logistics terungkap bahwa ada tiga fase perubahan akibat pandemi. Fase normal atau kita melakukan kebiasaan seperti biasa, selanjutnya ialah new normal atau kita melakukan adaptasi untuk bisa bertahan.

"Kita bisa mengatakan di tahap ini ialah survival mode, baik untuk perusahaan maupun human resource-nya. Lanjut ke 'next normal' di mana fase ini merupakan proses recovery dan growth. Kalau sekarang sendiri, sebagian perusahaan masih ada di step recovery dan sebagian masih di tahap survival," terang Zaroni Samadi, penulis buku Circle of Logistics.

Namun, terlepas dari di mana posisi perusahaan logistik saat ini, faktanya pola konsumsi masyarakat sudah mengalami perubahan dari offline menjadi online. Hal ini harus diantisipasi oleh pelaku industri logistik karena tren di masa depan akan mengacu pada stay at home economy atau pola berbelanja daring, mulai dari belanja bahan makanan, jasa pesan antar makanan, telekomunikasi, dan lain-lain.

"Namun, itu semua tak akan bisa terjadi kalau tidak ada logistik dan platform e-commerce. Tidak bisa kalau industri logistiknya terganggu. Karena kalau industri logistik terganggu atau belum siap, dampaknya muncul sejumlah masalah, yaitu pasokan material berkurang, fluktuasi harga karena suatu barang sulit didistribusikan, kekurangan stok, pengiriman yang lambat, maupun penghentian produksi atau distribusi," ungkap pria yang menjabat sebagai Direktur PT Pos Logistik Indonesia tersebut.

Kondisi di atas tegas Zaroni makin menegaskan bahwa logistik punya peran penting dalam kondisi pandemi saat ini. Hal inilah pentingnya para pelaku industri melakukan inovasi secepatnya. Karena sebenarnya, demand barang tertentu yang ingin didistribusikan itu tetap ada, yang berubah ialah cara mengaksesnya saja.

"Betul, di pandemi ini kita memang harus berinovasi pada value, apakah melakukan program bundling atau melakukan pivot bisnis agar bisa survive, contohnya dengan membuat hand sanitizer. Namun sebenarnya, hikmah di masa pandemi ini, kita dipaksa untuk switch ke digital agar tim logistiknya bisa jalan. Jadi, kondisi ini, mau tidak mau, suka tidak suka, mendorong digitalisasi logistik," terang Zaroni.

Menanggapi hal itu, Benny Woenardi selaku Managing Director Cikarang Dry Port mengakui bahwa proses digitalisasi harus dilakukan agar perusahaan bisa mengimbangi tren konsumsi masyarakat yang telah berubah. Cikarang Dry Port sendiri sudah berjalan ke arah sana dan menurutnya sudah berada di evolusi yang tepat.

Sekadar informasi, Cikarang Dry Port adalah salah satu anak perusahaan Jababeka Group yang berada di Kota Jababeka Cikarang dengan tujuan memfasilitasi kebutuhan proses logistik ekspor impor para tenan industri.

"Saya kira, kami sudah dalam jalur yang tepat. My CDP, aplikasi layanan logistik telah kami rilis bagi pelanggan Cikarang Dry Port pada tahun 2018 yang bisa diakses melalui ponsel pintar android dan telah memasuki tahap dua dengan menambahkan fitur pembayaran secara online," tutup Benny.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini