Pembelajaran Jarak Jauh Masih Menyisakan Masalah

Pembelajaran Jarak Jauh Masih Menyisakan Masalah Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sudah berjalan hampir satu tahun menyisakan berbagai tantangan dan peluang yang perlu ditindaklanjuti. Tantangan yang dihadapi antara lain adalah kompetensi guru dan juga ketimpangan pada akses teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK).

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan bahwa tantangan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan PJJ ini tentu saja bukan hal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Menurut dia, para guru memerlukan pelatihan yang ekstensif dan intensif sebelum dapat langsung menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dengan optimal.

Baca Juga: Covid-19 Tak Kunjung Usai, PJJ DKI Jakarta Diperpanjang

Akan tetapi, pelatihan semacam itu tentu tidak dapat dilaksanakan dalam keadaan darurat seperti saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Selain itu, tambahnya, disrupsi yang datang di sektor pendidikan ini membutuhkan solusi dan tindak lanjut yang cepat dari guru dan sekolah.

"Mau tidak mau, pembelajaran jarak jauh tetap harus dilaksanakan dengan sumber daya yang seadanya. Untuk mengatasi terbatasnya kemampuan guru dalam menyelenggarakan PJJ, ada baiknya sekolah dan guru dapat mengidentifikasi layanan pembelajaran jarak jauh seperti apa yang dapat digunakan oleh siswanya," ucap Nadia di Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Menurut dia, salah satu kompetensi yang patut dibenahi adalah belum memadainya kemampuan guru dalam menggunakan perangkat teknologi untuk melakukan pengajaran. Padahal, pandemi memaksa mereka untuk beradaptasi dan menggunakan teknologi untuk mengajar.

Survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperlihatkan bahwa sebanyak 53,55% guru mengalami kesulitan dalam melakukan manajemen kelas selama BDR. Sebanyak 48,45% guru mengaku masih kesulitan dalam menggunakan teknologi selama BDR.

"Penguasaan teknologi informasi komunikasi (TIK) tentu menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan dan perlu dijadikan prioritas untuk pengembangan kompetensi guru sekarang dan juga di masa depan. Pandemi merupakan sesuatu yang datangnya tidak diduga dan menunjukkan hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki dan diadaptasi," jelas Nadia.

Selain peningkatan kapasitas guru, Nadia memaparkan perlunya upaya nyata dari pemerintah untuk meminimalkan TIK, bahkan menghilangkan ketimpangan akses antardaerah di Indonesia. Ketimpangan akses teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Para siswa yang berasal dari kalangan kurang mampu maupun yang tinggal di daerah-daerah rural Indonesia seperti di Nusa Tenggara dan Papua umumnya tidak memiliki infrastruktur dan fasilitas yang memadai untuk menjalankan pembelajaran jarak jauh.

"Pada akhirnya, siswa-siswa tersebut mengalami kesulitan yang lebih besar daripada teman-teman seusianya yang berada di daerah perkotaan maupun yang berasal dari keluarga menengah ke atas. Pada tahun ini pun, isu digital divide masih akan menjadi permasalahan yang belum terselesaikan," tegasnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terkini