Industri Asuransi Optimis Akan Menggeliat di Tahun 2021

Industri Asuransi Optimis Akan Menggeliat di Tahun 2021 Foto: Allianz

Industri asuransi umum mengalami penurunan pertumbuhan premi selama pandemi Covid-19. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyatakan saat ini momen tepat untuk mengimplementasikan penggunaan teknologi informasi (TI) atau digital.

Berdasarkan data hingga September tahun lalu, pendapatan premi asuransi umum turun Rp4,02 triliun menjadi Rp53,87 triliun. Pendapatan terbesar datang dari premi harta benda sebanyak Rp14,26 triliun dan kendaraan bermotor Rp11 triliun. Pada kuartal III tahun 2019, pendapatan premi itu masih mencapai Rp57,9 triliun.

Baca Juga: Kabar Baik bagi Industri Asuransi, 76% Masyarakat Tertarik Beli Asuransi Online

Direktur Eksekutif AAUI Dody Dalimunthe mengatakan, turunnya pendapatan perusahaan asuransi karena turunnya daya beli masyarakat dan profit usaha dari perusahaan. Gambaran umum industri asuransi saat ini, yakni premi asuransi umum rata-rata turun. Bahkan, ada potensi penundaan pembayaran premi karena kondisi keuangan tertanggung sehingga berdampak kepada kualitas aset yang diperkenankan (admitted asset).

Dody mengungkapkan penjualan produk asuransi tradisional mengalami hambatan karena pembatasan interaksi. Ini menjadi seleksi terhadap agen yang terbiasa dengan pertemuan fisik. Objek pertanggungan properti industri (pabrik) punya potensi mengalami perubahan okupansi karena beberapa tidak ada aktivitas produksi.

“Ini dapat berdampak kepada silent risk bagi asuransi karena harus dipastikan pemeliharaan mesin-mesin pabrik. Hal itu agar tidak mengalami kerusakan karena didiamkan. Asuransi kendaraan bermotor berpotensi menurun karena manufaktur mengurangi produksi. Hal ini berdampak juga kepada kualitas premi asuransi yang bersumber dari perusahaan multifinance,” jelasnya kepada SINDOnews, Selasa (9/2/2021).

Dody memaparkan rasio klaim berpotensi mengalami kenaikan karena pembandingnya, premi menurun. Beberapa lini bisnis perlu diwaspadai, seperti klaim asuransi kredit sebagai dampak dari kualitas kredit perbankan.

“Dengan demikian, secara umum di tahun 2021 premi asuransi umum masih mengalami kontraksi dibandingkan rata-rata sebelum pandemi Covid-19. Namun, AAUI optimistis bahwa ada pertumbuhan di tahun 2021 dibandingkan tahun 2020,” tuturnya. 

Dia menyatakan perusahaan asuransi umum perlu melakukan review lini usaha. Caranya, menerapkan seleksi risiko (prudent underwriting). Bisnis yang sudah menunjukkan loss ratio sebaiknya dikurangi atau dihindari. Ini juga menjadi waktu untuk mengevaluasi pencatatan pencadangan teknis sebagai upaya memastikan perusahaan dapat melaksanakan liability ke depan.

“Ini waktunya untuk mengimplementasikan teknologi dalam proses bisnis asuransi, mulai dari desain produk, pemasaran, sampai penanganan klaim. Manfaat produk asuransi juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen,” pungkasnya.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini