Perkembangan Industri Sawit Indonesia Mampu Jadi Pengungkit Agrobisnis Nasional

Perkembangan Industri Sawit Indonesia Mampu Jadi Pengungkit Agrobisnis Nasional Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas, Prof Reni Mayerni, mengatakan bahwa sektor pengembangan industri kelapa sawit sangat strategis bagi pembangunan perkebunan di Indonesia karena mampu menjadi pengungkit dan pelopor pembangunan agrobisnis nasional.

"Ada dua potensi energi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, yaitu biodiesel dan biopower. Biodiesel dihasilkan dari pengolahan lebih lanjut dari minyak kelapa sawit, sementara biopower dihasilkan melalui penggunaan residu pengolahan tandan buah segar atau TBS sebagai bahan bakar bagi pembangkit listrik," kata Prof Reni, Rabu (10/2/2021).

Baca Juga: Dukung Peremajaan Sawit Rakyat, BPDPKS Akan Kasih Rp30 Juta per Hektare

Hal ini disampaikan Prof Reni dalam webinar nasional "Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dalam Rangka Ketahanan Nasional" yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Prof Reni menuturkan bahwa industri ini juga berkontribusi dalam pembangunan daerah sebagai sumber daya penting untuk pengentasan kemiskinan. Karena itu, menurutnya, menjaga kedaulatan negara melalui optimalisasi pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan.

"Minyak sawit merupakan produk pertanian yang paling siap sebagai sumber energi terbarukan. Kehadiran minyak sawit menjadi biodiesel sangat strategis untuk mendukung upaya pemerintah mengantisipasi krisis energi di masa depan serta membantu menekan subsidi Bahan Bakar Minyak atau BBM yang berasal dari energi minyak mentah," katanya.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurachman, mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan mulai pulih di tahun 2021. Kebijakan pemerintah melanjutkan Program Pemulihan Ekonomi atau PEN di APBN, serta implementasi UU Cipta Kerja dan pelaksanaan vaksinasi, akan dapat mendorong aktivitas ekonomi, peningkatan konsumsi dan investasi sehingga ekonomi akan pulih di tahun 2021.

"Faktor utama pendorong ekonomi Indonesia 2021 antara lain penanganan pandemi Covid-19, yakni pengendalian kasus Covid-19 serta ketersediaan vaksin di tahun 2021," kata Eddy dalam Webinar Online Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dalam Rangka Ketahanan Nasional, Rabu (10/2/2021).

Faktor lainnya, lanjut Eddy, adalah dukungan kebijakan fiskal ekspansif untuk melanjutkan Program Ekonomi Nasional. Dukungan sisi permintaan melalui penguatan bantuan sosial, dukungan sisi penawaran berfokus pada insentif pajak, serta bantuan kredit dan jaminan untuk UMKM dan koperasi.

"Lalu faktor lainnya seperti percepatan reformasi dan sumbangan sektor industri sawit dan energi sangat berpengaruh. Implementasi program Mandatori B30 yang dapat dipertahankan selama pandemi. Kemudian reformasi produktivitas, daya saing & iklim investasi. Juga, melalui UU Cipta Kerja, Reformasi Anggaran, dan Lembaga Pengelola Investasi atau LPI," katanya.

Eddy menuturkan bahwa BPDPKS diberikan amanah untuk membuat program-program untuk pembangunan sektor perkebunan sawit. "Semua program yang kami lakukan tujuannya untuk sustainability perkebunan sawit, bukan hanya corporate, melainkan juga perkebunan rakyat," tutur Eddy.

Sementara itu, Akademisi yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia atau IKABI, Tatang H Soerawidjaja, mengatakan bahwa Pohon Sawit adalah anugerah Yang Maha Kuasa bagi wilayah tropika.

"Kenapa saya katakan anugerah? Karena pohon kelapa sawit adalah pohon penghasil minyak-lemak pangan paling produktif, yakni sekitar 5 ton/ha/tahun minyak sawit mentah + sekitar 0,5 ton/ha/tahun minyak inti-sawit mentah. Kedua minyaknya bermutu sangat baik, mudah untuk dibuat produk apa pun, baik itu aneka produk pangan, energi seperti bahan bakar nabati, dan BBN, maupun aneka produk industri pengolahan," kata Tatang, Rabu (10/2/2021).

Ketua Umum APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, juga menawarkan solusi untuk keberlanjutan industri sawit, yakni dengan melakukan lobi ke Kementerian LHK/BPN/Kementan untuk memfasilitasi pekebun terkait pelepasan status kawasan khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat dalam RPP UU Cipta Kerja.

"Rencana pelepasan 1,7 juta hektare kebun rakyatmasih dirasa kurang karena di Riau saja kebun sawit rakyat masuk kawasan sudah mencapai 1,6 juta hektare. Makanya, perlu kita fasilitasi untuk menambah jumlah ini. Perlu juga agar kita mendorong percepatan penyusunan RT/RW pro petani kepada pemerintah, menjadi anggota Tim Terpadu RT/RW Provinsi sehingga ada keterwakilan, karena selama ini dalam Rancangan Peraturan Pemerintah justru petani tidak pernah ditanya," kata Manurung, Rabu (10/2/2021).

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini