Riset: Biodiesel Sawit Paling Bisa Kurangi Emisi GRK

Riset: Biodiesel Sawit Paling Bisa Kurangi Emisi GRK Foto: Antara/Aprillio Akbar

Indonesia telah mengembangkan biodiesel berbasis minyak sawit sejak tahun 2008 dalam bentuk B2,5. Peningkatan campuran biodiesel terus dilakukan secara signifikan hingga sekarang menjadi B30 sejak adanya dukungan dana CPO Supporting Fund (CSF) yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di pertengahan tahun 2015.

Pengembangan biodiesel sawit ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil dan mewujudkan ketahanan energi nasional. Tidak hanya itu, pengembangan biodiesel juga sebagai komitmen kuat untuk berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK sesuai dengan amanat Paris Agreement.

Baca Juga: Hebat! Minyak Sawit Mampu Perbaiki Kolesterol Tubuh

Dalam kesepakatan multilateral tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah meratifikasi dan juga turut berperan aktif untuk mencegah terjadinya perubahan iklim melalui penurunan emisi GRK yang ditargetkan sebanyak 29 persen dengan kemampuan sendiri (business as usual) hingga 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Salah satu sektor yang ditargetkan dalam komitmen nasional tersebut adalah sektor energi dengan target penurunan emisi sebesar 314–398 juta ton CO2.

Pengembangan energi terbarukan seperti biodiesel merupakan upaya sektor energi untuk mencapai target tersebut. Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi GRK melalui pengembangan biodiesel sesuai dengan harapan. Meningkatnya volume penyerapan domestik dan blending rate biodiesel berimplikasi pada penurunan emisi yang makin besar, yakni dari 592 ribu ton CO2 pada tahun 2010 meningkat menjadi 22,3 juta ton CO2 tahun 2020.

Kemampuan biodiesel sawit dalam menurunkan emisi juga telah diuji dan dibuktikan oleh banyak penelitian baik dalam skala nasional maupun internasional. Melansir laman Palm Oil Indonesia, hasil perhitungan komisi Uni Eropa melalui The European Council’s Directive 2009/28/EC menunjukkan, produksi biodiesel sawit (tanpa proses produk yang spesifik) mampu menghemat emisi sebesar 36 persen.

Sementera, produksi biodiesel sawit yang feedstock-nya berasal dari perkebunan yang telah mengimplementasikan teknologi methane capture dalam pengolahan POME memiliki kemampuan dalam emission saving lebih tinggi, yakni mencapai 62 persen. Kemampuan biodiesel sawit (dengan methane capture) tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan biodiesel rapa, biodiesel kedelai, dan biodiesel bunga matahari dalam menghemat emisi GRK.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini