Sinergi Mendorong Nilai Sawit, Indonesia Ekspor Lumpur Sawit ke Malaysia

Sinergi Mendorong Nilai Sawit, Indonesia Ekspor Lumpur Sawit ke Malaysia Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas

Dalam dua dekade terakhir, kelapa sawit telah memainkan peranan yang sangat signifikan dalam perekonomian nasional. Kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai jenis produk oleopangan, oleokimia, hingga bahan bakar nabati yang ramah lingkungan.

Tidak hanya memanfaatkan hasil panen utama berupa buah, limbah lumpur sawit (palm sludge oil/PSO) juga dapat diolah menjadi berbagai jenis produk bernilai ekonomis tinggi seperti sumber Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm). Optimalisasi pemanfaatan limbah sawit tidak hanya terus dilakukan di Indonesia, Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia juga tengah mengembangkan limbah sawit sebagai kebutuhan industri.

Baca Juga: Potensi Predikat Sawit Berkelanjutan untuk Indonesia

Data Kementerian Perdagangan RI mencatat, ekspor palm acid oil/palm sludge oil Indonesia ke dunia pada tahun 2020 mencapai US$544,47 juta (atau setara dengan Rp7,62 triliun) atau naik 6,6 persen dibandingkan tahun 2019. Malaysia merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia untuk produk tersebut dengan nilai ekspor sebesar US$185,37 juta atau pangsa pasarnya 34,05 persen, disusul Italia US$101,12 juta (18,57 persen), China US$76,93 juta (14,13 persen), Belanda US$41,61 juta (7,64 persen), dan Amerika Serikat US$27,2 juta (5 persen).

Sinergitas antara Indonesia dan Malaysia untuk mendorong peningkatan nilai perdagangan minyak kelapa sawit terus dilakukan. Sinergi diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) palm sludge oil Indonesia oleh Malaysia sebanyak 2.000 ton/bulan selama dua tahun ke depan.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan antara PT Alam Duta Mandiri dan Dendro Integrasi SDN Bhd, Selasa (16/2) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. Penandatanganan dilakukan oleh Chief Executive Officer PT Alam Duta Mandiri, I G A Raka Saputra, dan Chief Executive Officer Dendro Integrasi SDN Bhd, Azra Abdul, serta disaksikan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Kasan, dan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Zainal Abidin Bakar.

"Melalui penandatanganan MoU ini, diharapkan kedua perusahaan dapat saling bersinergi mendorong peningkatan nilai perdagangan minyak sawit kedua negara. Bersama-sama kita terus melakukan diplomasi kelapa sawit, mempromosikan kelapa sawit di pasar global, serta melawan isu miring seputar minyak kelapa sawit," ujar Kasan seperti dilansir dari laman Kementerian Perdagangan RI.

Kementerian Perdagangan, lanjut Kasan, menyambut baik pembelian palm sludge oil Indonesia oleh perusahaan asal Malaysia tersebut. "Diharapkan ke depannya, produsen Indonesia lainnya mampu memasok permintaan palm sludge oil ke Malaysia dan juga produk kelapa sawit serta turunan lainnya ke seluruh dunia," imbuhnya.

Perlu diketahui, pada 2020, ekspor Indonesia ke Malaysia untuk produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunan mencapai US$945,03 juta (atau setara dengan Rp13,23 triliun). Nilai ini naik 15,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$820,97 juta (atau setara dengan Rp11,5 triliun).

Di Kawasan ASEAN, Indonesia merupakan pemasok CPO nomor wahid untuk Malaysia dengan pangsa pasar 85,14 persen; disusul Thailand (8,56 persen), Kamboja (1,78 persen), Filipina (1,48 persen), dan Singapura (0,61 persen).

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini