Kecil-Kecil Cabai Rawit! Keuntungan Perusahaan Ini Melejit Parah Selama Covid!

Kecil-Kecil Cabai Rawit! Keuntungan Perusahaan Ini Melejit Parah Selama Covid! Kredit Foto: Annisa Nurfitriyani

Kecil-kecil cabai rawit, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) yang berusia kurang dari dua tahun sejak listing di bursa pada 2019 lalu berhasil mencetak kinerja keuangan positif di tengah pandemi Covid-19. Itama Ranoraya melaporkan, laba bersih perusahaan bertumbuh signifikan hingga 82,3% dari Rp33,21 miliar pada Desember 2019 menjadi Rp60,52 miliar pada Desember 2020. 

Manajemen mengatakan, capaian tersebut sejalan dengan meningkatnya pendapatan perusahaan sebesar 100,1% dari Rp281,75 miliar per 2019 menjadi Rp563,89 miliar per 2020. Penjualan alat kesehatan invitro merupakan kontributor terbesar bagi lonjakan pendapatan perusahaan dengan pertumbuhan menembus 183,4% menjadi Rp410,8 miliar pada tahun 2020. Produk swab antigen test menjadi produk urutan teratas penyumbang pendapatan terbesar dalam segmen alat kesehatan invitro, diikuti oleh Mesin Plasma Darah (Apheresis) dan mesin USG. Sementara segmen alat kesehatan Non Elektromedik Steril berupa produk alat suntik ADS (Auto Disable Syringe) di tahun 2020 tumbuh 24,8% menjadi Rp147,7 miliar. Baca Juga: IHSG Menguat 0,38% pada Penutupan Sesi Kedua

Berdasarkan kinerja secara kuartalan, kuartal IV masih menjadi penyumbang terbesar kinerja perusahaan di sepanjang tahun 2020. Pendapatan dan laba bersih perseroan di kuartal IV – 2020 berkontribusi masing-masing sebesar 75% dan 85% terhadap total pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2020. Direktur Utama Itama Ranoraya, Heru Firdausi Syarif, mengungkapkan bahwa pada kuartal IV tahun lalu, perseroan mendapatkan banyak pesanan baik dari Pemerintah maupun Swasta dan Ritel terkait dengan penanganan Covid-19 seperti untuk penyediaan jarum suntik, mesin plasma (Mesin Apheresis), dan juga swab antigen test. Baca Juga: Senin, 22 Februari 2021: Rupiah Perkasa, Terbaik Kedua Se-Asia

"Secara kuartalan, pendapatan kuartal IV-2020 tumbuh 177% dibandingkan kuartal IV-2019. Pesanan alat suntik ADS , Mesin Apheresis untuk plasma darah dan juga Antigen Test dari pemerintah naik signifikan. Bahkan untuk produk antigen test yang baru mulai kami pasarkan di kuartal IV tahun lalu, pembelian dari non-Pemerintah baik swasta maupun ritel berkontribusi paling besar," pungkasnya pada Senin, 22 Februari 2021.

Lebih lanjut, manajemen meyakini realisasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tersebut akan berlanjut pada tahun 2021 ini dengan kisaran 80% hingga 100%. Untuk mencapai target tersebut, Itama Ranoraya masih mengandalkan produk Jarum Suntik ADS, Mesin Apheresis (Plasma Darah), Antigen Test dan produk baru yaitu Avimac, produk immunomodulator yang akan mulai di pasarkan di kuartal I tahun ini.

Heru menambahkan, target pertumbuhan tersebut merupakan murni pertumbuhan organik, di luar rencana akuisisi serta pembentukan JV yang ada dalam pipeline aksi korporasi perseroan di tahun ini.

“Kami optimis, untuk target pertumbuhan 80%-100% di tahun ini, produk alat kesehatan yang kami miliki adalah produk kesehatan yang sifatnya primer terkhusus dalam penanggulangan Covid-19 saat ini. Dan tahun ini, kami juga menargetkan bisa merealisasikan transformasi dari model bisnis medical equipment supplier menjadi manufacturer dan innovator peralatan medis, Insyallah baik itu target pertumbuhan dan transformasi bisnis bisa terealisasi”, jelas Heru.

Direktur Keuangan Itama Ranoraya, Pratoto Raharjo, mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi tahun yang sangat penting bagi perseroan. Selain mencapai target pertumbuhan, Itama Ranoraya juga menargetkan sejumlah aksi korporasi di tahun ini. Terkait dengan pemenuhan kebutuhan belanja modal, Itama Ranoraya memiliki opsi pendanaan baik dari pinjaman perbankan maupun kas internal, selain itu perseroan juga memiliki opsi pendanaan dari penjualan saham treasury yang kapan saja bisa direalisasikan.

“Tahun ini, kami memiliki posisi kas yang sangat kuat, selain itu sampai saat ini, kami belum memanfaatkan pinjaman perbankan karena kami mendapat dukungan yang kuat dari prinsipal kami seperti Abbott, Alera Health, Terumo dalam pemenuhan belanja barang. Dan jika diperlukan kami juga masih memiliki saham treasury hasil program buyback di tahun lalu, yang sewaktu-waktu bisa menjadi opsi pendanaan bagi perseroan," ungkap Pratoto.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini