Tips Membeli Mobil Bekas agar Keuangan Tetap Sehat

Tips Membeli Mobil Bekas agar Keuangan Tetap Sehat Kredit Foto: Unsplash/Tim Trad

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa membeli mobil bekas untuk mobilitas sehari-hari tentu lebih untung karena menjadi solusi memiliki mobil dengan dana terbatas. Namun, apakah bijak membeli mobil bekas di saat seperti ini?

Patut diketahui bahwa meski kita bisa menghemat biaya, ada sejumlah tantangan tersendiri saat membeli mobil bekas. Kesehatan komponen mobil bekas tentu tidak seperti mobil baru yang bisa dibilang masih prima. Tidak menutup kemungkinan pula, biaya perawatan pasca-pembelian yang Anda keluarkan mencapai setengah atau melebihi harga pembelian mobil.

Baca Juga: Mau Beli Mobil Baru? Simak Daftar Lengkap 21 Jenis Mobil yang Dapat Diskon Pajak 0%

Dalam Instagram Live yang diselenggarakan Lifepal dan BRI Insurance, Financial Educator Lifepal, Aulia Akbar, CFP® dan Chief Technical Officer (CTO) BRI Insurance, Ade Zulfikar berpendapat bahwa ada beberapa hal yang patut diperhatikan ketika seseorang ingin membeli mobil bekas agar keuangan tetap terjaga. Berikut ulasannya.

Cari yang sesuai bujet dan kebutuhan

Carilah yang memang sesuai untuk kebutuhanmu, yaitu operasional sehari-hari dan sesuai bujet.

"Kita tentu memiliki keinginan untuk membeli mobil merek 'A' karena desainnya yang menarik, atau mobil merek 'B' yang terlihat elegan, atau mobil 'C' yang sangat gesit dalam manuvernya. Namun sayangnya, harga mobil bekas A, B, dan C cukup tinggi. Maka, sebelum memilih tanyakan pada diri sendiri, apakah fitur-fiturnya memang 'harus dimiliki' untuk menunjang mobilitas sehari-hari?" ujar Financial Educator Lifepal, Aulia Akbar, CFP®.

Jika memang fitur tersebut tidak terlalu dibutuhkan, pilihlah mobil lain dengan merek terkenal dan kualitas yang baik, serta harga yang lebih terjangkau. Perhatikan pula soal bagaimana ketersediaan dan harga suku cadang, ketersediaan bengkel resmi, serta hal-hal yang menjadi kendala umum dari mobil tersebut.

Dokumen mobil harus lengkap

Membeli mobil bekas tanpa Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan atau Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) tentu saja sangat berisiko. Sebab, untuk mengurus dokumen-dokumen tersebut akan memakan biaya dan waktu.

Namun di sisi lain, ketiadaan dokumen mobil dapat menimbulkan risiko yang lebih parah. Misalnya, penjual bisa saja mengatakan bahwa BPKB hilang. Namun, bagaimana jadinya jika BPKB ternyata sedang dititipkan di perusahaan pembiayaan karena ada masalah kredit? Mobil yang Anda beli bisa saja ditarik oleh pihak pembiayaan atau leasing kapan pun.

Sementara itu, jika BPKB ada tapi STNK yang tidak ada, tidak menutup kemungkinan pula pajak mobil sudah mati. Sejatinya, membeli mobil tanpa dokumen atau bodong bisa dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Anda pun berpotensi terjerat Pasal 480 KUHP tentang Penadah Hasil Curian.

Usahakan untuk tidak mengkredit

Ada alasan kuat mengapa tidak disarankan membeli mobil bekas secara cicilan atau kredit. Alasannya adalah karena pengeluaran bulanan kita bisa makin membengkak. Cicilan mobil tentu memunculkan pengeluaran pasif yang harus dibayarkan per bulan. Ketika mobil yang kita kredit juga membutuhkan pergantian suku cadang, sudah pasti pengeluaran bulanan kita membengkak.

Ada dua cara untuk mengukur kemampuan Anda dalam membeli mobil:

-Pastikan saja dana darurat Anda tidak terpakai untuk membelinya;

-Pastikan ketika Anda membelinya secara tunai, jumlah aset lancar Anda masih di kisaran 15% hingga 20% dari kekayaan bersih.

Dana darurat adalah dana tunai simpanan yang digunakan hanya pada kondisi darurat, seperti apabila terjadi pemutusan hubungan kerja atau salah satu anggota keluarga mengalami kecelakaan atau sakit berat. Maka, amat tidak bijak apabila mengorbankan dana darurat untuk membeli mobil.

Sementara itu, nilai rasio aset lancar berbanding kekayaan bersih didapat dari perbandingan total nilai aset lancar (tabungan, kas, dan setara kas) dan kekayaan bersih (total aset-total utang). Jikalau harus mengkredit, pastikan saja usia mobil bekas yang ingin Anda beli masih satu tahun pemakaian. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko-risiko pergantian suku cadang di kemudian hari.

Pastikan juga cicilan per bulan tidak melebihi 35% dari pemasukan bulanan,dan total utang tertunggak Anda tidak melebihi 50% dari total nilai aset.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini