PASPI: Kelapa Sawit Itu Tanaman Paling Berminyak

PASPI: Kelapa Sawit Itu Tanaman Paling Berminyak Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Dari 17 jenis minyak nabati yang dikonsumsi dunia, minyak kelapa sawit, minyak kedelai, minyak rapa, dan minyak biji bunga matahari merupakan kontributor utama dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.

Data United States Development of Agriculture (USDA, 2020) mencatat, pada tahun 2020, total luas lahan keempat minyak nabati utama dunia sekitar 213,6 juta hektare yang terdiri dari kedelai (127 juta hektare), rapa (35,5 juta hektare), bunga matahari (27,6 juta hektare), dan kelapa sawit (24 juta hektare). Kendati kebutuhan lahannya paling sedikit, kelapa sawit mampu menghasilkan produksi minyak paling banyak dibandingkan tiga jenis komoditas minyak nabati lainnya.

Baca Juga: Apkasindo: Serapan Karbon Tinggi, Sawit Bukan Perusak Lingkungan

Dari volume produksi top-4 minyak nabati utama dunia pada tahun 2020 yang mencapai 191,4 juta ton, terdapat sekitar 84,2 juta ton merupakan produksi minyak sawit. Sementara itu, produksi minyak kedelai sebesar 60,3 juta ton, minyak rapa 27,6 juta ton, dan minyak biji bunga matahari sebesar 19,3 juta ton.

"Kelapa sawit tidak hanya paling efisien dalam penggunaan lahannya, tetapi juga paling tinggi produktivitas minyaknya atau paling berminyak," seperti dikutip dari laporan PASPI Monitor.

Data Oil World (2008) mengonfirmasi pernyataan tersebut. Rata-rata dunia untuk produktivitas kelapa sawit (CPO+CPKO) mencapai 4,3 ton/hektare/tahun. Sementara itu, produktivitas tanaman rapa, bunga matahari, dan kedelai dalam menghasilkan minyak berturut-turut hanya sebesar 0,7 ton/hektare/tahun; 0,52 ton/hektare/tahun; dan 0,45 ton/hektare/tahun.

Produktivitas minyak dari tanaman kelapa sawit tersebut hampir 10 kali lipat dari produktivitas tanaman kedelai, atau 8 kali lipat dari produktivitas tanaman bunga matahari dan 6 kali lipat dari produktivitas tanaman rapa.

Morfologi tanaman kelapa sawit yang berbentuk pohon dan tergolong sebagai tanaman tahunan dengan siklus penanaman panjang hingga 25–30 tahun juga berimplikasi pada kemampuannya sebagai "paru-paru ekosistem" yang lebih besar dan lebih sustain dalam jangka panjang. Keunggulan lainnya adalah efisiensi kelapa sawit dalam penggunaan input produksi (pupuk) yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain sehingga residu yang dihasilkan juga lebih rendah dan lebih ramah lingkungan.

Dalam laporan PASPI Monitor dituliskan, pada kondisi saat ini, di mana seluruh dunia menghadapi kelangkaan dan keterbatasan lahan, masyarakat global akan lebih memilih tanaman yang hemat lahan (land saved) dengan produktivitas minyak yang lebih tinggi. Pilihan tersebut cocok dijatuhkan pada minyak sawit. Tidak hanya itu, jika masyarakat global ingin mengurangi deforestasi, solusinya bukan membenci minyak sawit karena kerugiannya akan lebih besar.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini