Demokrat 'Nangis-nangis' Minta Jokowi Bubarkan KLB

Demokrat 'Nangis-nangis' Minta Jokowi Bubarkan KLB Kredit Foto:

Rencana sejumlah mantan kader Partai Demokrat untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) perlahan mulai nyata. Hari ini foto-foto lokasi dan mantan kader yang akan mengikuti KLB di Deli Serdang, Sumatra Utara, beredar. Kubu Demokrat pro Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pun menyindir pemerintah dinilai membiarkan KLB berjalan.

Ketua Badan Pemilu Partai Demokrat, Andi Arief, lewat akun Twitter barunya setelah akun lamanya diretas menegaskan KLB di Deli Serdang ilegal. Alasannya, KLB tidak memenuhi persyaratan AD/ART partai.

Ia pun menyindir Pemerintahan Joko Widodo yang seolah membiarkan terjadinya KLB. "Pemerintah lakukan pembiaran jika KLB ilegal terjadi. Pak Jokowi harusnya bisa bertindak, terlalu lembek bela demokrasi," kata Andi di akun Twitter barunya, Jumat (5/3).

Baca Juga: Mahfud Diam Seribu Bahasa, Andi Arief Bicara Pertumbahan Darah KLB Demokrat

Andi menyentil Presiden Jokowi yang justru mengabaikan etika politik. Presiden Jokowi dianggapnya tak mau mendengarkan masukan dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal kudeta Demokrat yang didalangi oknum di lingkaran kekuasaan.

"Soal etika hargai mantan Presiden (SBY) yang lakukan kebenaran juga beku hatinya. Jangan salahkan jika mantan Presiden demonstrasi di Istana dengan standar prokes," ujar mantan aktivis 98 itu.

Di sisi lain, Andi juga menyinggung akun Twitter lamanya yang tak lagi bisa diaksesĀ  Ia pun lantas membuat akun Twitter baru. Ia berharap pihak Twitter Indonesia dapat mengembalikan akun lamanya.

"Bukan hanya partai yang dicuri, termasuk akun Twitter juga. Mohon @TwitterID bantu kembalikan akun saya @Andiarief__, bukan pekerjaan sulit bagi sistem anda mengembalikan akun saya," cicitnya.

Kemarin Andi sudah memaparkan sejumlah hal yang dipandangnya sebagai bukti rencana KLB di hotel The Hill Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara. Dalam video di akun Twitter barunya, tampak sejumlah orang mulai menancapkan bendera Demokrat di hotel itu.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini