KOL Stories x Ogut Mudacumasekali: Mengenal Lebih Dalam Dunia Konten Kreator

KOL Stories x Ogut Mudacumasekali: Mengenal Lebih Dalam Dunia Konten Kreator Kredit Foto: Instagram Ogut Mudacumasekali

Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia selama satu tahun terakhir. Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah pun melakukan serangkaian pembatasan terhadap aktivitas masyarakat mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga saat ini pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Masyarakat dipaksa untuk melakukan segala kegiatan dari rumah mulai dari belajar, bekerja, sampai berbelanja.

Hal tersebut pun membuat hampir seluruh sektor bisnis terpapar sengatan Covid-19. Tak terkecuali sektor ekonomi kreatif yang terhantam keras dengan adanya pandemi Covid-19. Namun, para pelaku ekonomi kreatif di Tanah Air dituntut untuk terus berinovasi dan adaptif terutama di situasi pandemi seperti sekarang ini. Para pelaku usaha sektor ekonomi kreatif pun hingga kini masih berjuang demi menghidupkan kembali industri kreatif yang telah mati suri selama pandemi Covid-19.

Baca Juga: KOL Stories x Cakra Yudi Putra: Apa Kabar Sektor Ekonomi Kreatif?

Namun, seperti mati satu tumbuh seribu. Meski ada beberapa sektor usaha yang nampaknya memiliki masa depan yang sudah masuk ke kategori sunset industry, ada juga beragam sektor usaha yang muncul dengan adanya digitalisasi. Salah satunya dengan menjadi seorang konten kreator yang cukup banyak dipilih oleh masyarakat dari berbagai segmen. Tak hanya masyarakat biasa, para orang-orang terpandang yang sudah memiliki nama besar pun ikut-ikutan mencicipi legitnya cuan sebagai konten kreator.

Mungkin, bagi para pesohor yang berhijrah menjadi konten kreator tak sulit untuk mencari penonton karena mereka sudah memiliki basis penggemar. Namun, bagaimana dengan masyarakat biasa? Persaingan yang begitu ketat di dunia ini pun tak jarang membuat banyak orang mengurungkan niatannya.

Untuk itu, Warta Ekonomi melalui KOL Stories mengajak untuk berbincang dengan seorang konten kreator, Aldio Pramudya Gunawan, atau yang lebih dikenal dengan nama Ogut Muda Cuma Sekali.

Mengapa Anda memutuskan untuk menjadi seorang konten kreator?

Jika berbicara tentang mengapa saya memutuskan terjun ke dunia konten kreator, itu ada alasannya. Sebelumnya, saya kuliah mendapat gelar di umur 20 tahun. Setelah itu, saya S2 di ITB, kemudian kerja di perusahaan konsultan. Kemudian, saya membuat warung ayam bakar kecil-kecilan. Di warung ayam bakar itu, dengan pengalaman yang sudah saya dapati sebagai manajemen konsultan, sebagai seorang yang bekerja sebagai manajemen konsultan, sudah merupakan tugas sehari-hari untuk membuat perusahaan tersebut menjadi sukses.

Jadi, logikanya jika sudah terbiasa bekerja di bidang manajemen konsultan, usaha ayam bakar saya seharusnya sukses. Ternyata dalam waktu satu setengah tahun, usaha ayam bakar saya bangkrut. Itu bisa bangkrut bukan karena miskalkulasi keuangan atau faktor lain, tetapi kurangnya penjualan. Saat itu saya merasa di titik rendah saya karena saya merasa di saat saya sudah mempunyai tiga gelar dan sudah mencapai segala prestasi, saya tetap gagal juga.

Saat mengalami keterpurukan itu, saya melihat influencer beserta artis di luar sana membuat usaha toko makanan yang belum tentu enak, tetapi sangat laku. Di situlah saya mempunyai prinsip: saya harus mempunyai banyak followers media sosial untuk lebih mudah berjualan. Logikanya, jika orang sudah menyukai kita, orang tersebut sudah percaya kita, jadi mereka akan datang ke kita.

Sebagai seorang konten kreator, menurut Anda apa saja sih plus minusnya dari profesi yang sedang Anda tekuni?

Pertama, plusnya adalah kita bisa mempunyai banyak followers di media sosial. Artinya, suara kita dapat didengar oleh banyak orang. Kedua, jika personal brand-nya sudah matang, sumber pendapatannya akan banyak. Dari endorsing saja, kita bisa punya banyak sumber endorse. Ketiga, kita bisa membuka networking yang sangat besar. Mendapatkan followers itu susah, jadi ketika kita mendapatkan banyak followers, semua orang bahkan pengusaha pun akan lebih respect.

Minusnya adalah konten kreator merupakan hal baru karena ini tidak pernah diajarkan di sekolah bagaimana cara mencapai ke sana. Kedua, kemungkinan untuk gagal pasti ada. Ketiga, penghasilan konten kreator itu tidak stabil. Minus yang ketiga ini yang paling mudah dilihat karena saat bekerja di kantor, kita pasti sudah mendapat penghasilan atau setiap tahunnya naik jabatan.

Namun, untuk konten kreator, kita harus berjuang sendiri. Namun, itu bukan menjadi masalah. Jika penghasilan kita tidak stabil dibandingkan orang yang bekerja di kantor, itu berarti kita harus pintar dua kali lipat untuk mengatur uang dibandingkan orang yang bekerja di kantor.

Bagaimana cara Anda mencari ide untuk membuat konten?

Pertama kali sebelum kita mencari ide, kita harus mengetahui fundamental orang untuk membuat konten itu apa saja sih prinsipnya. Contoh, saat kita ingin membuat konten, kita harus berfokus pada manfaat konten tersebut pada audiens. Untuk itu, kita harus tahu audiens kita mempunyai masalah apa dan ekspektasi apa dalam hidupnya. Jika sudah mengerti, selanjutnya kita harus cari informasi.

Sebuah ide adalah rangkaian proses dari input dan output. Input adalah informasi yang masuk ke dalam otak kita. Informasi tersebut diproses di otak kita. Baru hasil atau output tersebut hadir sebagai ide. Saya yakin, proses yang masuk ke otak rata-rata pasti bagus karena kita sudah diberi Tuhan otak yang baik, selama kita menggunakan otak kita dengan baik.

Baca Juga: KOL Stories x Desi Indarti: Obrak-Abrik Dapur Tante Bos, Emak-Emak Pengusaha serta Penambang Bitcoin

Namun, mengapa masih banyak orang yang masih stuck saat ingin membuat konten? Masalahnya adalah karena informasi yang masuk ke dalam otaknya masih sangat sedikit. Mengapa? Karena malas membaca atau malas mencari informasi. Karena riset membuktikan jika minat membaca orang Indonesia berada di peringkat terbawah.

Sebenarnya, memasukkan informasi itu penting. Kita bisa belajar dari Youtube, berbincang bersama orang yang positif, baca buku dan artikel, mendengarkan podcast, itu yang sebenarnya harus dilakukan. Sebenarnya banyak media lain yang bisa kita gunakan selain buku. Namun, anak muda zaman sekarang hanya suka melihat video hiburan saja, bukan seputar ilmu pengetahuan.

Melihat persaingan yang ketat, bagaimana cara agar konten yang kita ciptakan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan bisa mengikuti tren yang ada?

Caranya hanya dua, pertama adalah perdalam topik. Jika seseorang sudah membuat topik tentang yoga, saya akan membuat topik tentang yoga secara mendalam, misalnya yoga untuk ibu hamil, jadi itu pun sudah berbeda. Kedua, kita bisa membedakannya dari karakter ktia. Contoh, saya ini bergelut di bidang digital marketing. Di luar sana ada banyak orang yang sudah berbicara tentang digital marketing. Untuk itu, saya akan membedakan karakter saya dalam mempresentasikan materi yang saya bawakan.

Bagaimana caranya? Jadi, mayoritas orang yang membahas seputar digital marketing biasanya dibawakan dengan cara yang formal. Kalau saya bisa membedakannya dengan membawakan karakter yang mewakili anak muda dengan bahasa kasual, tetapi dengan muatan materi yang lengkap.

Ketika ingin memulai profesi menjadi konten kreator, apa saja yang perlu dilakukan terlebih dahulu?

Yang wajib disiapkan pertama adalah uang untuk makan. Karena saat membuat konten, tidak hari itu juga kita bisa mendapat uang. Oleh karena itu, kita harus mengamankan perut kita. Kedua, kita ini membuat konten untuk siapa? Karena kita ingin punya banyak follower, kita harus mengenali kesukaan followers kita. Setelah ada clue pembahasan yang disukai oleh followers, baru kemudian kita bisa berpikir, apakah kita sudah mempunyai ilmunya dan suka dengan topik tersebut atau tidak.

Apakah perlu memiliki sebuah tim yang solid terlebih dahulu baru kita bisa menciptakan konten yang berkualitas?

Belajar sendiri saja karena saya sampai 100 ribu subscriber juga masih mengedit sendiri. Kalian bisa belajar di Google dan Youtube, apalagi sekarang sudah banyak kursus online. Nanti akan butuh tim jika sudah membuat konten seperti saya yang harus upload di Tiktok, Instagram, Podcast, Youtube, kemudian Linkedin. Jika dirasa sudah tidak akan terpegang, baru bisa hire copywriter dan editor.

Apakah ada standar untuk alat-alat yang digunakan?

Zaman sekarang cukup dengan handphone saja. Saat saya memulainya di tahun 2018, saya hanya bermodal pinjaman kamera beserta laptop biasa. Jadi, jangan selalu bergantung pada alat. Handphone zaman sekarang sudah canggih, ada aplikasi Canva yang gratis dan mudah untuk digunakan.

Adakah pesan yang bisa disampaikan kepada teman-teman yang sedang berjuang untuk menjadi konten kreator?

Untuk teman-teman yang ingin menghasilkan dari dunia media sosial, ingat selalu untuk harus lebih banyak belajar dibanding saat kita sekolah. Kemudian, money management juga harus bagus karena penghasilan kita tidak stabil. Jangan lupa untuk tetap berinovasi, tetap berjuang, dan tetap berusaha karena siapa tahu kesuksesan Anda hanya tinggal satu konten lagi.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1.387 hoaks yang beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini