Para Pakar Global Ramai-ramai Kasih Bukti China Mau Lenyapkan Minoritas Muslim di Xinjiang

Para Pakar Global Ramai-ramai Kasih Bukti China Mau Lenyapkan Minoritas Muslim di Xinjiang Kredit Foto: Flickr/TravelingMipo

"Tahanan Uighur di dalam kamp interniran dicabut kebutuhan dasarnya sebagai manusia, sangat dipermalukan dan menjadi sasaran perlakuan atau hukuman yang tidak manusiawi, termasuk kurungan isolasi tanpa makanan untuk waktu yang lama," klaim laporan itu.

"Bunuh diri telah menjadi begitu meluas sehingga para tahanan harus mengenakan seragam 'pengaman bunuh diri' dan dilarang mengakses materi yang rentan menyebabkan melukai diri sendiri," sambung laporan itu.

Laporan itu juga mengaitkan penurunan dramatis dalam angka kelahiran Uighur di seluruh wilayah - turun sekitar 33% antara 2017 dan 2018 - dengan dugaan penerapan program sterilisasi, aborsi, dan pengendalian kelahiran yang diberlakukan secara resmi oleh pemerintah China, yang dalam beberapa kasus dipaksakan kepada wanita tanpa persetujuan mereka.

Pemerintah China telah mengkonfirmasi penurunan angka kelahiran ke CNN tetapi mengklaim bahwa antara 2010 dan 2018 populasi Uighur di Xinjiang meningkat secara keseluruhan.

Laporan itu mengungkapkan selama tindakan keras tersebut, buku teks untuk budaya Uighur, sejarah dan sastra diduga dihapus dari kelas untuk anak-anak sekolah Xinjiang. Di kamp-kamp, para tahanan diajari bahasa Mandarin secara paksa dan digambarkan disiksa jika mereka menolak, atau tidak mampu, untuk berbicara.

Menggunakan dokumen publik dan pidato yang diberikan oleh pejabat Partai Komunis, laporan tersebut mengklaim bertanggung jawab atas dugaan genosida terletak pada pemerintah China.

Peneliti mengutip pidato dan dokumen resmi yang menyebut Uighur dan minoritas Muslim lainnya sebagai "gulma" dan "tumor". Salah satu arahan pemerintah diduga meminta otoritas lokal untuk memutuskan garis keturunan, memutuskan akar mereka, memutuskan hubungan mereka dan memutuskan asal-usul mereka.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini