Ribut-Ribut Masa Jabatan Presiden, Refly Harun Setuju Amandemen UUD 1945

Ribut-Ribut Masa Jabatan Presiden, Refly Harun Setuju Amandemen UUD 1945 Kredit Foto: Instagram/Refly Harun

Guru besar hukum tata negara Refly Harun mengaku sangat mendukung upaya untuk mengubah aturan pembatasan masa jabatan presiden. Dengan kata lain, dia setuju upaya untuk mengamendemen UUD 1945. Bukan menambah panjang periode kekuasaan presiden, melainkan malah memotongnya.

"Sebagaimana pernah saya sampaikan di Taman Ismail Marzuki pada 2017, saya mengatakan masa jabatan presiden itu dibuat satu periode saja selama tujuh tahun. Atau boleh lebih dari satu periode, tetapi tidak berturut-turut. Berapa 2 atau 3 periode pun boleh, yang penting waktunya berselang," ujar Refly melalui youtube, Sabtu (13/3/2021) malam.

Baca Juga: Mahfud MD: Refly Harun, Rocky Gerung, JK Kritis, Gak Diapa-apain Tuh!

Refly berpendapat bahwa dia melihat selama ini yang menjadi pangkal masalah adalah kesempatan berkuasa berturut-turut. Dalam praktiknya, hal ini membuat periode jabatan presiden tidak bisa efektif digunakan bekerja untuk rakyat. Di tengah masa jabatan, seorang presiden sudah berpikir untuk bisa mendapatkan periode keduanya.

"Kalau tidak berturut-turut tujuh tahun, seorang presiden tidak akan memikirkan bagaimana bisa terpilih kembali. Dia hanya berkonsentrasi pada pekerjaannya dan mudah-mudahan tidak ada gangguan untuk periode-periode berikutnya," tutur lelaki kelahiran Palembang itu.

Hal inilah yang menurut Refly tidak dilihatnya selama ini. "Kalau sekarang misalnya, terlihat betul sepertinya 6 bulan pertama setelah terpilih pada 2014 Presiden Jokowi melakukan adjustment. 2,5 tahun bekerja, 2 tahun terakhir sudah persiapan untuk pemilihan kembali. Jadi bagaimana masa jabatan bisa efektif kalau yang dipikirkan adalah bagaimana bisa terpilih kembali," katanya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini