AGP Bersama EHJKT Memperingati Earth Hour di SCBD

AGP Bersama EHJKT Memperingati Earth Hour di SCBD Kredit Foto: Dok. AGP

Bencana nonalam wabah covid-19 dan banyaknya bencana alam menyadarkan kita untuk mencegah kerusakan alam adalah sangat penting bagi manusia untuk bertahan hidup dan membangun masa depan yang berkelanjutan peringatan Earth Hour 2021 menjadi sebuah momen di mana tahun 2021 adalah tahun yang krusial bagi sejarah umat manusia.

Ketika dunia mencoba untuk membalikkan keadaan dan pulih dari kerusakan akibat pandemi Covid-19 serta membangun kembali dirinya sendiri, kita perlu menempatkan alam sebagai solusi utama bagi upaya pemulihan kehidupan didunia untuk memastikan masa depan ekonomi dan masyarakat kita. Baca Juga: Perusahaan Ini Ciptakan Kotak Vaksin Covid-19 Serba Canggih, Gunanya...

"Earth Hour adalah momen persatuan bagi individu, pemimpin, dan pecinta lingkungan agar bersama-sama menyerukan tindakan dan aksi nyata untuk mengembalikan hubungan manusia dan alam sekaligus merawat bumi untuk lestari" terang Ketua Umum Artha Graha Peduli, Heka Hertanto, saat peringatan Earth Hour Jakarta di Kawasan SCBD, Jakarta, Sabtu (27/03/2021). Baca Juga: Pemanfaatan Energi Panas Bumi Nomor 2 di Dunia, Indonesia Lebih Baik dari Jepang

Heka menuturkan bahwa sepanjang tahun  2020 sampai saat ini  warga menyaksikan dunia yang hening, udara yang bersih, warga berdiam di rumah saja dan sebagainya seolah- olah dunia bisa beristirahat selama beberapa bulan. 

"Berkaitan dengan Earth Hour 2021, Artha Graha Peduli (AGP) bersama teman-teman dari Earth Hour Jakarta mengajak semua pihak untuk bersama  melakukan  pemadaman listrik minimal satu jam pada Sabtu (27/3/2021). Khusus di AGP, Artha Graha Group (AGG) dan Artha Graha Network (AGN) akan memadamkan lampu mulai pukul 20.15 - 21.45 waktu setempat " jelas Heka.

Earth Hour 2021 adalah momen untuk meningkatkan komitmen kepedulian terhadap lingkungan setelah pandemi Covid-19.

Tema Earth Hour 2021 adalah keanekaragaman hayati yang  sejalan dengan kondisi belahan dunia yang masih dalam balutan serbuan virus. Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2013, Indonesia memiliki luas wilayah 1,3 % dari luas permukaan bumi dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (mega biodiversity), yaitu sekitar 17 % dari keseluruhan jenis makhluk hidup yang ada di bumi ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan perubahan iklim saat ini berada dalam kondisi kritis. Kenaikan suhu setiap tahun ditambah curah hujan ekstrem merupakan bukti masa kritis iklim.

BMKG mencatat pada 2016 dan 2019 merupakan dua tahun terpanas di Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan 2019 sebagai tahun terpanas ke-2 setelah 2016.

Perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian dan ekosistem wilayah pesisir.

"Peringatan Earth Hour 2021 yang diikuti seluruh negara  sebagai upaya mengurangi dampak pemanasan global dengan memadamkan listrik selama 1 jam untuk memberikan bumi istirahat. Ini  harus menjadi refleksi bagi seluruh manusia agar berperilaku lebih ramah pada satu-satunya planet yang bisa dihuni," ujar Heka Hertanto.

Di tempat yang sama wakil Earth Hour Jakarta Mayankintami sangat mengapresiasi aksi pemadaman yang dilakukan oleh AGP selama 90 menit mulai 20.15 sampai 21.45. 

"Kawasan SCBD pukul 21.30 masih dalam kondisi padam, karena pihak AGP sangat mensupport dengan aksi lingkungan ini. Yang lain mematikan 60 menit, namun beda halnya dengan disini. Mereka mematikan lampu dan kawasan ini selama 90 menit. Pemadaman di kawasan ini aman terkendali, terlihat ramai namun protokol kesehatan tetap terjaga dengan baik. Tadi juga telah dilakukan simbolisasi pemadaman dengan pemotongan kue 60+ bersama tim Earth Hour Jakarta, Artha Graha Peduli dan PLN. Telah dilaporkan pula penurunan beban yang terjadi dengan pemadaman ini dari agenda tahun sebelumnya" ujar Mayankintami.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini