Habis Nike dan Adidas, China Peringatkan Banyak Bisnis Agar Hati-hati Soal Xinjiang

Habis Nike dan Adidas, China Peringatkan Banyak Bisnis Agar Hati-hati Soal Xinjiang Kredit Foto: Antara/REUTERS/Thomas Peter

Pejabat China pada Senin (29/3/2021) mengatakan, perusahaan asing tidak boleh membuat langkah gegabah atau masuk ke politik dengan menyuarakan kekhawatiran tentang kerja paksa di Xinjiang. Hal itu telah memicu reaksi dengan melakukan boikot terhadap sejumlah merek asing.

Sejumlah merek asing seperti H&M, Burberry, Nike dan Adidas dan merek Barat lainnya telah diboikot oleh China, karena komentar mereka tentang kerja paksa di pabrik kapas di Xinjiang.

Baca Juga: Malang! Begini Nasib Bisnis Nike dan Adidas di China Usai Senggol Xinjiang

Keretakan mulai tumbuh ketika Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat meningkatkan tekanan kepada China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

"Saya tidak berpikir sebuah perusahaan harus mempolitisir perilaku ekonominya," ujar juru bicara pemerintah Xinjiang, kata Xu Guixiang.

"Terburu-buru mengambil keputusan dan terlibat dalam sanksi tidak masuk akal. Ini seperti mengangkat batu untuk menjatuhkannya di atas kaki sendiri," kata Xu menambahkan.

Pekan lalu, pengguna media sosial China membagikan pernyataan H&M pada 2020, yang mengumumkan tidak akan lagi menggunakan kapas dari Xinjiang. Ketika itu, H&M mengatakan keputusan itu diambil karena kesulitan melakukan uji kredibelitas setelah media dan kelompok hak asasi manusia melaporkan dugaan penggunaan kerja paksa di Xinjiang. Tuduhan ini berulang kali dibantah oleh Beijing.

Juru bicara pemerintah Xinjiang lainnya Elijan Anayat mengatakan, orang China tidak menginginkan produk asing seperti H&M dan Nike yang memboikot kapas Xinjiang. Dia mengundang perusahaan untuk melakukan perjalanan ke ladang kapas di kawasan itu untuk melihat sendiri apa yang terjadi.

Gelombang boikot konsumen di China bertepatan dengan serangkaian sanksi terkoordinasi yang diberlakukan oleh Inggris, Kanada, Uni Eropa, dan Amerika Serikat pekan lalu atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Xinjiang. Pemerintah AS secara terbuka menuduh Beijing melakukan genosida terhadap etnis minoritas Muslim Uighur di wilayah tersebut.

Xu berulang kali menolak tuduhan genosida dan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Xinjiang. Xu menuduh kekuatan Barat terlibat dalam manipulasi politik untuk mengguncang China dengan sanksi tersebut.

 “Mereka telah kehilangan akal sehat dan hati nurani mereka, mereka sangat antusias dengan manipulasi politik dan penyalahgunaan sanksi, hingga tingkat yang histeris,” kata Xu.

Amerika Serikat pada Januari mengumumkan larangan impor semua kapas dan produk tomat dari Xinjiang. Larangan itu terkait dengan tuduhan kerja paksa terhadap Muslim Uighur.

Pemerintah Barat dan kelompok hak asasi sebelumnya menuduh pihak berwenang di Xinjiang telah menahan dan menyiksa orang Uighur di kamp-kamp interniran. Beberapa mantan narapidana mengatakan, mereka telah menjadi sasaran indoktrinasi ideologis.

China telah berulang kali membantah semua tuduhan semacam itu. China mengatakan, kamp-kamp tersebut bertujuan untuk pelatihan kejuruan dan memerangi ekstremisme agama. 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini