Teknologi Mahadata Berpotensi Menjadi Pelayanan Kesehatan di Masa Depan

Teknologi Mahadata Berpotensi Menjadi Pelayanan Kesehatan di Masa Depan Kredit Foto: Dok. DCD

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG-KFER, MPH, Wakil Direktur IMERI-FKUI, menjelaskan tentang teknologi mahadata (big data) yaitu sebuah potensi pelayanan kesehatan di masa mendatang, dalam kegiatan Seminar Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI), Kamis (25/5).

Ia memaparkan bahwa mahadata memerlukan proses pengumpulan informasi dari berbagai sumber menuju sebuah pusat penyimpanan. Setelah itu, para ahli data akan membaca, mengedit, melakukan analisis, serta menampilkan menjadi sebuah algoritma kesehatan.

Baca Juga: Mengenal Apa Itu Big Data

Sumber mahadata dalam bidang kesehatan diperoleh dari rumah sakit, laboratorium, emergency, disease registries, biobank, dan lain sebagainya. Kendala yang akan dihadapi dari penggunaan mahadata ini adalah storage, data analytic, visualization, dan reporting. Mahadata yang dikelola dengan baik akan menjadi sebuah informasi, knowledge, dan sebuah policy. Di masa depan, mahadata akan menjadi suatu jenis pelayanan kesehatan baru.

Mahadata yang telah diolah dapat menjadi ‘model’ dan dapat digunakan untuk pengobatan, misalnya dari mahadata dapat diketahui bahwa dalam 10 tahun ke depan, seseorang dapat mengidap suatu penyakit seperti cenderung rentan darah tinggi, atau rentan mengidap penyakit kanker payudara, dan lain-lain. Saat ini, semua negara berlomba-lomba membangun genom institute seperti Singapore, Republik Rakyat China, Malaysia

Dengan adanya mahadata, maka lahirlah “Kedokteran Presisi” yang merupakan pelayanan kesehatan individu berbasis genetik, perilaku, dan lingkungan. Fokusnya adalah pada perkembangan aspek genetik dan ketersediaan data kesehatan yang mendorong terwujudnya pelayanan kesehatan individu secara tepat.

Selain itu, mahadata juga erat kaitannya dengan teknologi. Perkembangan teknologi digital dalam layanan kesehatan diantaranya personal health devices (jam yang dapat mengukur detak jantung), knowledge integrates (Artificial Intelegence), pharmaceuticals (pengembangan obat-obatan), diagnostics, health information, dan lain-lain

“Saat ini, aplikasi kedokteran presisi di seluruh dunia sudah dapat memprediksi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aplikasi yang terkenal adalah yang digunakan pada penyakit kanker, contohnya pada kasus Angelina Jolie yang memutuskan untuk mengangkat payudaranya karena melalui aplikasi kedokteran presisi dapat diketahui bahwa dia memiliki risiko 87% kanker payudara dan 50% kanker ovarium,” ujarnya.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini