Negara Paling Stabil di Timteng Diuji, Pangeran Hamzah Terpaksa Diciduk karena...

Negara Paling Stabil di Timteng Diuji, Pangeran Hamzah Terpaksa Diciduk karena... Kredit Foto: AFP/Jordanian Royal Palace

Saudara sedarah Raja Abdullah, Pangeran Hamzah bin Hussein dituduh berhubungan dengan pihak asing atas rencana untuk mengacaukan Yordania. Wakil Perdana Menteri Yordania Ayman Safadi mengatakan, Pangeran Hamzah telah dipantau selama beberapa waktu terkait rencananya tersebut.

"Penyelidikan telah memantau gangguan dan komunikasi dengan pihak asing atas waktu yang tepat untuk mengguncang Yordania," kata Safadi. 

Baca Juga: Gawat! Eks Pejabat dan Anggota Kerajaan Ditangkap-tangkapi, Yordania Diancam Kudeta Besar

Safadi mengatakan, badan intelijen asing menghubungi istri Pangeran Hamzah dan mengatur penerbangan bagi pasangan tersebut untuk meninggalkan Yordania. Safadi menambahkan, penyelidikan awal menunjukkan aktivitas dan gerakan yang secara langsung mempengaruhi keamanan dan stabilitas negara.

"Penyelidikan awal menunjukkan aktivitas dan gerakan ini telah mencapai tahap yang secara langsung memengaruhi keamanan dan stabilitas negara, tetapi Yang Mulia memutuskan yang terbaik adalah berbicara langsung dengan Pangeran Hamzah, untuk menanganinya di dalam keluarga," ujar Safadi.

Menurut Safadi, antara 14 atau 16 orang telah ditangkap sehubungan dengan plot tersebut. Safadi mengatakan, saat ini keluarga kerajaan sedang berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Tapi Pangeran Hamzah tidak mau bekerja sama, tambahnya. 

Safadi mengatakan, pihak keamanan telah meminta mereka yang terlibat dalam plot tersebut dirujuk ke pengadilan keamanan negara. Pangeran Hamzah kini telah ditempatkan di bawah tahanan rumah. 

“Ini adalah pelarian dari tradisi dan nilai-nilai keluarga Hashemite,” kata Safadi.

Perkembangan tersebut kemungkinan akan mengguncang citra Yordania sebagai negara paling stabil di Timur Tengah. Raja Abdullah mencopot Pangeran Hamzah dari posisinya sebagai pewaris takhta pada 2004.

Meskipun dia telah terpinggirkan selama bertahun-tahun, Pangeran Hamzah telah membuat marah pihak berwenang dengan menjalin hubungan dengan sejumlah tokoh oposisi dari suku-suku yang kuat.

Mereka dikenal sebagai Herak, yang belum lama ini menyerukan aksi protes terhadap korupsi di Yordania. Negara tersebut mengalami resesi terburuk dalam beberapa dekade akibat pandemi Covid-19.

"Apa yang dikatakan Pangeran Hamza berulang kali terdengar di rumah setiap orang Yordania. Pihak berwenang harus mendengarkan lonceng peringatan yang dibunyikan dari dua sumber yang berbeda, dari masyarakat dan dari dalam keluarga kerajaan tentang kondisi nyata negara dan korupsi yang terjadi," ujar seorang kolumnis terkemuka, Ahmad Hasan al Zoubi.

Kepala istana Yordania di era Raja Hussein, Jawad al Anani mengatakan, beberapa tokoh oposisi telah merapat di sekitar Pangeran Hamzah. Hal ini tidak disukai oleh raja. Tetapi sebagian besar politisi percaya Pangeran Hamzah akan dibungkam, karena dia bukan merupakan ancaman. 

"Saya pikir Raja Abdullah telah mengukuhkan dirinya di pelana dan putranya Hussein telah mengkonsolidasikan dirinya sebagai pewaris takhta," ujar al Anani. 

Kantor berita SPA melaporkan, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman menelepon Raja Abdullah pada Minggu (4/4/2021), untuk menegaskan dukungan mereka atas langkah-langkah yang dia ambil untuk menjaga stabilitas dan keamanan Yordania. Selain itu, Raja Maroko Mohammed VI juga menyatakan dukungan dan solidaritas bagi Yordania. 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini