Awas, Militer Yordania Peringatkan Saudara Tiri Raja Tak Rongrong Stabilitas Negara

Awas, Militer Yordania Peringatkan Saudara Tiri Raja Tak Rongrong Stabilitas Negara Kredit Foto: AAP

Militer Yordania telah mengatakan kepada saudara tiri Raja Abdullah, Pangeran Hamzah bin Hussein, untuk menghentikan tindakan yang menyasar "keamanan dan stabilitas", yang menurut orang-orang yang mengetahui masalah itu dapat dikaitkan dengan rencana untuk mengganggu stabilitas negara.

Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita negara, militer mengatakan peringatan kepada Pangeran Hamzah adalah bagian dari penyelidikan keamanan yang lebih luas dan berkelanjutan di mana seorang mantan menteri, anggota junior keluarga kerajaan dan orang lain yang tidak disebutkan namanya ditahan.

Baca Juga: Dapat Solidaritas dari Negara Arab, Raja Yordania Juga Didukung AS karena...

Pangeran Hamzah mengatakan dalam sebuah rekaman video bahwa dia sedang dalam tahanan rumah dan telah diberitahu untuk tinggal di rumah dan tidak menghubungi siapa pun.

Berbicara dalam bahasa Inggris dalam video itu, yang disampaikan oleh pengacaranya kepada BBC, dia mengatakan bahwa dia bukan bagian dari konspirasi asing dan mengecam sistem yang berkuasa sebagai korup.

"Kesejahteraan (Yordania) ditempatkan di urutan kedua oleh sistem pemerintahan yang telah memutuskan bahwa kepentingan pribadi, kepentingan keuangan, bahwa korupsi lebih penting daripada kehidupan dan martabat serta masa depan sepuluh juta orang yang tinggal di sini," katanya.

Sebelumnya, panglima militer Yusef Huneity membantah laporan bahwa pangeran telah ditangkap tetapi mengatakan dia diberitahu untuk "menghentikan kegiatan yang dieksploitasi untuk menargetkan keamanan dan stabilitas Yordania".

Dua orang yang mengetahui situasi itu mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan keamanan telah tiba di istana kecilnya dan memulai penyelidikan. Raja Abdullah memberhentikan Pangeran Hamzah sebagai pewaris takhta pada 2004 dalam sebuah langkah yang mengonsolidasikan kekuasaannya.

The Washington Post mengatakan pihak berwenang Yordania menahan mantan putra mahkota itu dan menangkap hampir 20 orang lainnya setelah apa yang oleh para pejabat disebut sebagai "ancaman bagi stabilitas negara".

Seorang mantan pejabat AS yang mengetahui kejadian-kejadian di Yordania mengatakan bahwa plot tersebut, yang dia gambarkan sebagai hal yang kredibel dan berbasis luas tetapi tidak akan terjadi, tidak melibatkan "kudeta fisik".

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini