Pengumuman, Ketika Dubes China Bikin Klarifikasi Tepis Berita Miring dari Xinjiang

Pengumuman, Ketika Dubes China Bikin Klarifikasi Tepis Berita Miring dari Xinjiang Kredit Foto: Flickr/TravelingMipo

Xinjiang juga menghormati dan melindungi kebebasan beragama, sesuai hukum yang berlaku.

"Umat Muslim dari semua etnik di Xinjiang dijamin kebebasannya menurut keinginan masing-masing dalam menjalankan aktivitas keagamaan secara normal. Sesuai ajaran agama, peraturan agama, dan adat kebiasaan. Termasuk menjalankan ibadah puasa dan merayakan hari raya Islami, baik di masjid maupun di rumah," jelas Kedubes China.

Pemerintah daerah setempat juga aktif mengelola penerbangan charter, agar umat Islam dari semua etnik di Xinjiang dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar.

Selain itu, juga ada upaya aktif untuk melindungi bahasa dan budaya dari semua etnik di Xinjiang.

Pendidikan dasar dan menengah di Xinjiang diselenggarakan dalam 7 bahasa. Bahasa-bahasa etnik minoritas, juga digunakan secara luas dalam berbagai urusan publik.

Alunan melodi muqam yang merupakan kesenian khas etnik Uighur, telah terdaftar dalam Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Berbagai kegiatan seni dan kebudayaan tradisional di Xinjiang, termasuk festival panen meshrep etnik Uighur, juga diselenggarakan secara luas dan besar-besaran.

Ketiga, sejumlah kecil negara Barat sengaja merekayasa rumor bohong terkait Xinjiang. Dengan tujuan menyesatkan masyarakat internasional, menghambat kemajuan China, merusak hubungan persahabatan antara China dan negara-negara Muslim termasuk Indonesia, serta menghambat kemajuan pesat yang dialami China, dan negara-negara berkembang lainnya di dunia.

Kedubes China mengungkap, pada Agustus 2018, Kolonel Angkatan Darat Lawrence Wilkerson, yang merupakan mantan Kepala Staf Kantor Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, secara terang-terangan menyebut alasan negaranya menempatkan tentara di Afghanistan.

"Itu karena ada 20 juta orang Uighur di Xinjiang, China. CIA ingin menggoyahkan stabilitas China, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menciptakan kekacauan di China," terang Kedubes China.

"Apabila CIA bisa memanfaatkan orang-orang Uighur ini, dan bergabung dengan mereka untuk memprovokasi Beijing, maka itu bisa menggoyang China dari dalam, tanpa perlu menggunakan kekuatan eksternal," tambahnya.

Pada Februari lalu, The Greyzone, sebuah situs berita independen dari AS, menerbitkan artikel yang mengungkapkan bagaimana berbagai kebohongan tentang Xinjiang itu diciptakan.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini