Pengumuman, Ketika Dubes China Bikin Klarifikasi Tepis Berita Miring dari Xinjiang

Pengumuman, Ketika Dubes China Bikin Klarifikasi Tepis Berita Miring dari Xinjiang Kredit Foto: Flickr/TravelingMipo

Dalam buku berjudul The End of Uyghur Fake News (Akhir dari Berita Palsu Uighur), Maxime Vivas - penulis dan jurnalis terkemuka dari Prancis yang telah mengunjungi Xinjiang dua kali - menyatakan bahwa berita palsu tentang Xinjiang justru dibuat oleh orang-orang yang sama sekali belum pernah mengunjungi Xinjiang, dan disebarluaskan melalui plagiarisme.

Beberapa media AS dan Barat telah menenun kebohongan tentang Xinjiang, melalui pengeditan gambar dan sulih suara palsu.

Sementara itu, Jerry Gray, seorang pensiunan polisi Inggris yang telah lima kali bersepeda keliling Xinjiang, mengatakan, "Dibandingkan dengan narasi media Barat, saya lebih memilih untuk percaya pada mata saya sendiri," katanya.

Orang-orang Uighur yang mengklaim telah "mengalami penganiayaan" dalam berbagai program televisi itu sebenarnya adalah separatis "Turkistan Timur" yang anti China, atau "aktor" yang telah terbukti dimanipulasi oleh kekuatan anti China di AS atau negara Barat lainnya.

Keempat, dalam beberapa ratus tahun terakhir, negara-negara Barat yang memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi, telah menjarah dan menjajah banyak negara berkembang dalam waktu berkepanjangan.

Seiring kemerdekaan dan pembangunan terus-menerus di negara-negara berkembang, negara-negara Barat menjadi mulai khawatir bahwa kepentingan mereka akan terganggu.

Karena itu, mereka mengupayakan segala cara untuk menghambat kemajuan negara-negara berkembang, dengan menggunakan "kedok" seperti HAM, demokrasi, dan lain-lain.

Padahal kenyataannya, beberapa negara Barat sendiri justru menghadapi masalah HAM, seperti pandemi yang tidak terkendali, diskriminasi rasial, ketidaksetaraan sosial, dan kesenjangan antara kaya dan miskin.

Terlebih lagi, mereka juga memiliki catatan sejarah yang sangat memalukan mengenai genosida dan perdagangan budak. Dengan demikian, mereka sama sekali tidak layak untuk "menggurui" negara-negara berkembang.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini