Filipina Murka Lihat Bangunan Misterius Milik China Tegap Berdiri di ZEE

Filipina Murka Lihat Bangunan Misterius Milik China Tegap Berdiri di ZEE Kredit Foto: CSIS Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI)

Filipina melihat bangunan tak dikenal yang dipasang di terumbu karang dan pulau yang diklaim Manila di Laut China Selatan. Dalam patroli maritim, Filipina telah melacak armada kapal penangkap ikan China di sekitar wilayah tersebut. 

Filipina telah mengeluarkan peringatan kepada Beijing bahwa lonjakan "serangan" teritorial oleh kapal-kapal China di Laut Cina Selatan "dapat memicu permusuhan.

Baca Juga: Tangan Kanan Duterte Tegaskan Kehadiran Kapal China di LCS Picu Permusuhan Hebat

Kepala Penasihat Hukum Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Salvador Panelo mengatakan, kehadiran kapal-kapal China di Zona Ekonomi Eksklusif Filipina berpotensi meningkatkan ketegangan hubungan bilateral kedua negara. 

"Kami dapat bernegosiasi tentang masalah yang menjadi perhatian dan keuntungan bersama, tetapi jangan salah kedaulatan kami tidak dapat dinegosiasikan," ujar Panelo dilansir Sputnik News, Selasa (6/4/2021).

Sebelumnya pada bulan Maret, Manila mengajukan protes diplomatik atas kehadiran kapal-kapal Cina di dalam zona ekonomi eksklusif sepanjang 200 mil di Whitsun Reef di Laut China Selatan.

Filipina kemudian melihat bangunan tak dikenal yang dipasang di serangkaian terumbu karang tempat "armada" kapal penangkap ikan China yang sebelumnya telah terlacak.

"Filipina meminta China untuk segera menarik kapal-kapal ini. Filipina maupun komunitas internasional tidak akan pernah menerima pernyataan China tentang apa yang disebut 'kedaulatan terintegrasi yang tak terbantahkan' atas hampir seluruh Laut China Selatan," ujar Gugus Tugas Nasional Filipina Barat dalam sebuah pernyataan.

Ketua Gabungan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina Cirilito Sobejana mengatakan, The Laws of the Sea memberikan Filipina hak yang tak terbantahkan dan eksklusif atas wilayah tersebut. Konstruksi dan kegiatan lainnya, ekonomi atau lainnya, merugikan perdamaian, ketertiban, dan keamanan perairan teritorial.

"Bangunan (yang ada di wilayah Whitsun Reef) adalah ilegal," ujar Sobejana. 

Kapal China, yang diyakini diawaki oleh personil milisi maritim China, terlihat di Whitsun Reef, Laut China Selatan pada 27 Maret 2021. China membantah bahwa kapal-kapal itu membawa personil milisi maritim. Menurut diplomat China, kapal-kapal tersebut berlindung dari gelombang laut ganas. 

Whitsun Reef adalah bagian dari kepulauan Spratly yaitu rangkaian pulau, pulau kecil, dan atol yang kaya sumber daya. Wilayah ini diklaim oleh Brunei, China, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam. Filipina menyatakan bahwa terumbu karang berada di dalam zona ekonomi ekslusif negara tersebut.

Klaim teritorial China atas "sembilan garis putus-putus" yang menutupi sebagian besar Laut China Selatan ditolak oleh keputusan pengadilan PBB tahun 2016. Arbitrase tersebut telah dimulai oleh Manila pada 2013.

Beijing telah menolak untuk mengakui keputusan Pengadilan Arbitrase Permanen yang berbasis di Den Haag, yang disebutnya "palsu". Amerika Serikat juga secara aktif mempertimbangkan sengketa Laut China Selatan, meskipun Washington tidak memiliki klaim atas daerah tersebut. 

Angkatan Laut AS telah berulang kali mengirim kapalnya ke Laut China Selatan dalam misi yang disebut "kebebasan navigasi". Hal ini memicu kecaman keras dari Beijing, yang mengecam bahwa AS telah melakukan tindakan "provokasi". 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini