Mudik Dilarang, Tapi Shalat Taraweh dan Idul Fitri Boleh Berjamaah, dr Tirta Bilang Nggak Sinkron

Mudik Dilarang, Tapi Shalat Taraweh dan Idul Fitri Boleh Berjamaah, dr Tirta Bilang Nggak Sinkron Kredit Foto: Instagram/dr.tirta

Kebijakan pemerintah soal protokol kesehatan (prokes) menjelang Ramadan dan Idul Fitri seperti nano-nano. Rasanya beda-beda. Untuk mudik Lebaran, pemerintah tegas melarang. Sedangkan untuk shalat Taraweh dan Idul Fitri berjamaah di masjid, dibolehkan. Melihat kebijakan ini, seorang dokter yang biasanya marah-marah, memilih nasihatin pemerintah dengan halus.

Keputusan diperbolehkannya shalat Taraweh dan Idul Fitri di masjid disampaikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Senin (5/4). Namun begitu, Muhadjir menekankan agar shalat berjemaah itu mesti memenuhi sejumlah syarat.

Baca Juga: Reaksi Negatif Masyarakat Tanggapi Mudik Lebaran Dilarang

Pertama, pelaksanaan shalat Taraweh harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Kedua, jemaah hanya terbatas pada lingkup komunitasnya. Jemaah dari luar lingkup komunitas tidak diperbolehkan mengikuti Taraweh di komunitas itu. “Jemaah dari luar mohon supaya tidak diizinkan (mengikuti),” ucap Muhadjir.

Ketiga, pelaksanaan shalat Taraweh berjemaah diupayakan sesederhana mungkin. “Sehingga waktunya tidak terlalu panjang, karena masih dalam kondisi darurat ini,” tambah Muhadjir.

Sebelumnya, Muhadjir dengan tegas melarang masyarakat mudik Lebaran tahun ini. Menurutnya, larangan ini untuk mencegah penularan Covid-19 ke daerah dan agar program vaksinasi yang sedang berjalan bisa maksimal.

Melihat aturan yang berbeda-beda ini, dokter yang juga relawan penanggulangan Covid-19, Tirta Mandira Hudhi, protes. Lewat sebuah video yang diunggah di akun Instagram @dr.tirta, dia menyebut, dengan mengizinkan Taraweh berjemaah tapi mudik dilarang, menunjukkan kesan, kebijakan pemerintah dalam menangani Corona tidak sinkron.

“Ini ada berita lagi, katanya buka puasa bersama diizinkan di restoran. Nah, ini kan nggak sinkron. Saran saya sih bikin kebijakan yang sinkron. Ketika buka puasa boleh, ketika Taraweh boleh berjemaah, ketika wisata dibuka, ya harusnya mudik nggak dilarang, asalkan sesuai protokol,” protesnya, secara halus.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini