Duh Kacau! 75% Penambangan Bitcoin di China Bahaya Buat Lingkungan! Soalnya ....

Duh Kacau! 75% Penambangan Bitcoin di China Bahaya Buat Lingkungan! Soalnya .... Kredit Foto: Kr-Asia

Perusahaan penambangan Bitcoin di Inggris, Argo Blockchain menghasilkan rekor pendapatan selama 3 bulan berturut-turut. Meski penambangan Bitcoin sedang berkembang di negara Barat, mayoritas produksinya masih berlangsung di China.

Menurut laporan Nature.com baru-baru ini, 75% penambangan Bitcoin terjadi di China, di mana listrik murah bertenaga batu bara jadi bahan bakar di rig penambangan yang jumlahnya tak terhitung.

Mengutip Cointelegraph, Kamis (8/4/2021), investor Dragon's Den, Kevin O'Leary dan Shark Tank tak akan menyukai kabar itu. Mereka mengatakan, "Mulai sekarang, satu-satunya Bitcoin yang akan kami beli adalah koin yang bersumber dari penambang yang memanfaatkan energi terbarukan."

Baca Juga: Redam Kekhawatiran Beijing, Miliarder Bos Tesla: Kami Rela Tutup Jika Terbukti Mata-Matai China

Baca Juga: Uji Coba Uang Digital Tahap 1 Rampung, Bank Sentral Negara Ini Nemu Masalah Kritis

O'Leary juga mengklaim, investor institutsional akan segera memerhatikan masalah lingkungan dalam penggunaan Bitcoin serta asal koin digital tersebut. Sebab menurut peneliti di Nature, emisi gas rumah kaca China dari penambangan Bitcoin akan melebihi total emisi Republik Ceko dan Qatar pada 2024.

"Kami menemukan fakta, tanpa intervensi kebijakan apapun, konsumsi energi tahunan blockchain Bitcoin di China diharapkan mencapai puncaknya pada 2024, menghasilkan 130,50 juta metrik ton emisi karbon yang sesuai," papar peneliti Nature.

Mendapat bantuan bahan bakar fosil murah dan kedekatannya dengan episentrum produksi perangkat keras pertambangan Asia Tenggara, penambang Bitcoin di China mendominasi lanskap global untuk urusan menghasilkan BTC.

Nature juga menyebut, "Karena dekat dengan produsen perangkat keras khusus dan akses listrik murah, mayoritas penambangan BTC terjadi di China."

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini