Untuk Pertama Kalinya Raja Abdullah II Buka Suara Soal Ribut-ribut Kerajaan Yordania

Untuk Pertama Kalinya Raja Abdullah II Buka Suara Soal Ribut-ribut Kerajaan Yordania Kredit Foto: Getty Images/Max Mumby/Indigo

Raja Yordania, Abdullah II mengungkapkan keretakan kerajaan kepada publik yang terjadi pertama kalinya. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi, raja berbicara tentang krisis politik terburuk di Yordania dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh dugaan persekongkolan yang melibatkan saudara seayah Pangeran Hamzah.

Pemerintah menuduh Hamzah sebagai bagian dari "rencana jahat" untuk mengguncang negara dengan dukungan asing. Mantan putra mahkota itu kemudian ditempatkan sebagai tahanan rumah, dan pihak berwenang menahan 18 orang lainnya termasuk mantan pejabat senior.

Baca Juga: Belum Selesai! Muncul Rekaman Suara Perbincangan Pangeran Hamzah dengan Panglima Militer Yordania

Raja Abullah II mengatakan, rencana jahat tersebut telah dihentikan sejak awal. Raja Abdullah II mengaku syok dan marah ketika mengetahui skandal tersebut.

"Tidak ada yang mendekati apa yang saya rasakan. Syok, sakit, dan marah sebagai saudara dan wali keluarga Hashemite dan pemimpin dari orang-orang terkasih ini,” ujar Raja Abdullah II, dilansir Al Jazeera, Kamis (7/4/2021).

Raja melanjutkan dengan mengatakan bahwa Yordania terbiasa menghadapi tantangan. Sepanjang sejarah Yordania telah mengalahkan semua target yang mencoba merusak negara. Menurutnya, Pangeran Hamzah tidak berbahaya bagi stabilitas negara. Namun tindakan Pangeran Hamzah yang berencana menghancurkan negara telah menyakitkan kerajaan.

"Tantangan hari-hari terakhir ini bukanlah yang paling berbahaya bagi stabilitas negara, tapi itu yang paling menyakitkan bagi saya. Hamzah hari ini bersama keluarganya di istananya di bawah perlindungan saya," ujar Raja Abdullah II.

Abdullah mengatakan, penyelidikan akan dilakukan sesuai dengan hukum, dan langkah selanjutnya akan diatur oleh "kepentingan tanah air dan rakyat".

Pangeran Hamzah telah menandatangani sebuah surat yang menyatakan bahwa dia berjanji akan setia kepada kerajaan dan mematuhi tradisi kerajaan.

Pengadilan kerajaan mengatakan, penandatanganan surat perjanjian itu dilakukan setelah Pangeran Hamzah melakukan mediasi bersama dengan keluarga kerajaan, termasuk paman Raja Abdullah, Pangeran Hassan dan pangeran lainnya.

"Dia telah berkomitmen di hadapan keluarga (Hashemite) untuk mengikuti jalan orang tua dan kakek neneknya, untuk setia pada pesan mereka, dan untuk menempatkan kepentingan Yordania, konstitusi dan hukumnya di atas semua pertimbangan lainnya," kata Raja Abdullah II.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini