Kekhawatiran Terbaru Myanmar: Kudeta Militer Diprediksi Jadikan Negara Gagal

Kekhawatiran Terbaru Myanmar: Kudeta Militer Diprediksi Jadikan Negara Gagal Kredit Foto: AFP/Getty Image

Kekerasan kembali pecah ketika pasukan militer Myanmar memasuki lokasi protes pada hari Rabu ini (7/4/2021) di kota Kale, di mana para pengunjuk rasa menuntut pemulihan pemerintah sipil Aung San Suu Kyi.

Media setempat melaporkan peristiwa tersebut mengakibatkan korban luka dan korban jiwa. Outlet berita Mizzima secara spesifik menyebut setidaknya ada tiga orang yang tewas dalam kejadian ini.

Baca Juga: Perang Saudara Terancam Pecah! Kelompok Etnis Myanmar Pasang Kuda-Kuda Lawan Junta Militer

Terkendala akses informasi dan komunikasi

Pembatasan akses internet dan layanan data seluler yang dterapkan hingga saat ini, membuat gerakan pemuda anti-kudeta kesulitan bergerak dalam mengatur kampanye dan arus informasi melalui media sosial.

"Myanmar telah runtuh secara bertahap ke dalam jurang informasi sejak Februari lalu," kata Alp Toker, pendiri observatorium pemblokiran internet NetBlocks mengatakan kepada Reuters. "Komunikasi sekarang sangat terbatas dan hanya tersedia untuk beberapa orang."

Pengunjuk rasa menemukan solusi untuk menyampaikan pesan mereka dengan memproduksi pamflet berita harian berukuran A4 yang dibagikan secara digital dan dicetak untuk didistribusikan ke publik.

Dr Sasa, yang memimpin pemerintahan paralel sisa-sisa pemerintahan Suu Kyi, mengatakan dalam sebuah pernyataan Selasa (06/07), penasihat hukumnya akan menyerahkan bukti kekejaman militer ke berbagai badan hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dr Sasa mengatakan pengacara untuk Komite yang Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) telah menerima 180 ribu barang bukti dan akan bertemu pada hari Rabu (7/4/2021) dengan perwakilan dari mekanisme investigasi independen untuk Myanmar.

Menakar masa depan Myanmar

Dalam sebuah laporan yang dirilis hari Rabu (07/04), Fitch Solutions menilai, sanksi Barat tidak mungkin berhasil memulihkan demokrasi Myanmar. Dalam jangka menengah diyakini akan terjadi revolusi kekerasan antara militer dan oposisi bersenjata yang terdiri dari anggota gerakan anti-kudeta dan milisi etnis.

Fitch mengatakan, Myanmar sedang menuju negara gagal. "Meningkatnya kekerasan terhadap warga sipil dan milisi etnis menunjukkan bahwa Tatmadaw semakin kehilangan kendali atas negara," katanya, seraya menambahkan bahwa sebagian besar orang mendukung pemerintah paralel.

Sejauh ini, tekanan diplomatik tampaknya hanya berdampak kecil, karena kematian dan penahanan terhadap warga sipil terus berlanjut setiap hari.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini