Kisah Startup: Ula, Pemasok 2.500 Warung yang Dapat Dana Puluhan Juta

Kisah Startup: Ula, Pemasok 2.500 Warung yang Dapat Dana Puluhan Juta Kredit Foto: Ula

Pernah dengar tentang startup e-commerce Indonesia yang mentransformasikan warung lewat teknologi, Ula? Jelang ramadan, startup itu membagikan strategi guna mengantisipasi lonjakan permintaan konsumen.

Berdasarkan Data Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) 2020, terjadi peningkatan transaksi pembelian melalui e-commerce 18,1% daripada tahun sebelumnya. Pada 2021, prediksi industri menyebut angka itu akan naik, apalagi pandemi juga masih terjadi.

Pasar ritel Indonesia juga akan mengalami pertumbuhan $250 miliar; mayoritas berasal dari pertumbuhan ritel tradisional termasuk warung sebesar 70-80%. CCO Ula, Derry Sakti mengatakan, "Di Ula, kami berkomitmen untuk memastikan kebutuhan mitra kami terpenuhi, dan mereka tidak perlu mengalami hambatan apapun."

Baca Juga: China Punya Teknologi Pengembang Senjata Nuklir, Amerika Ambil Sikap!

Baca Juga: Pendiri PayPal: China Pakai Bitcoin Buat Guncang Dolar Amerika

Merujuk data iPrice, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar Rp500.000-Rp2.000.000 untuk berbelanja kebutuhan lebaran. Oleh karena itu, demi memenuhi peningkatan permintaan tersebut, berbagai persiapan perlu pelaku ritel lakukan, termasuk warung di Indonesia.

Ula berkomitmen memastikan ketersediaan stok para mitranya selama bulan Ramadan hingga lebaran, khususnya untuk barang-barang dengan tingkat permintaan paling tinggi seperti kebutuhan pokok. "Memasuki bulan Ramadan, terjadi kenaikan jumlah permintaan barang yang kemudian turut memengaruhi stok kesediaan dan harga penawaran di pasaran," ujar Derry.

Para mitra Ula dapat memesan barang tanpa menutup toko dan bepergian ke pasar. Melalui Ula, mereka membutuhkan 2-3 hari memesan barang, di mana biasanya memakan waktu 1-2 minggu. 

Aspek pengiriman barang (delivery) juga merupakan bagian yang krusial selama ramadan. Para peritel kecil seringkali berhadapan dengan masalah pengiriman yang tak terduga.

“Salah satu misi kami ketika merancang Ula adalah agar para pemilik warung dapat melakukan pemantauan ketika proses pengiriman. Proses pengiriman kami 2 hari dan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi peritel kecil,” imbuh COO Ula, Riky Tenggara.  

Memasuki tahun kedua, Ula mengaku telah mencapai lebih dari 25.000 pemilik warung, meningkat 40 kali lipat. Ula beroperasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, berawal dari Kota Surabaya.

Fokus awal Ula adalah penyediaan produk “kebutuhan harian” konsumen seperti FMCG dan kebutuhan pokok rumah tangga Indonesia, Ula berencana berkembang ke kategori lainnya, menyesuaikan dengan kebutuhan warung secara spesifik.

Ula telah menerima pendanaan dengan total sebesar 30,5 juta dolar sejak awal didirikan. Investor yang terlibat dalam pendanaan Ula termasuk Lightspeed India, Sequoia India, B Capital Group, Quona Capital, Saison Capital, SMDV, Alter. Ula telah memiliki tim yang tersebar di Indonesia, India dan Singapura, dan kini tengah merekrut berbagai peran kunci di area teknologi, manajemen kategori, analitik, serta pemimpin P&L kota di Indonesia.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini