CFLI Berencana Percepat Transisi Energi untuk Indonesia

CFLI Berencana Percepat Transisi Energi untuk Indonesia Kredit Foto: Climate Finance Leadership Initiative (CLFI)

Climate Finance Leadership Initiative (CLFI), sebuah organisasi yang didirikan dan diketuai oleh Utusan Khusus PBB untuk Climate Ambition and Solutions, Michael R. Bloomberg, merilis laporan Unlocking Private Climate Finance in Emerging Markets: Private Sector Considerations for Policymakers dalam program kemitraan dengan Association of European Development Finance Institutions (EDFI), dan Global Infrastructure Facility (GIF), Rabu (14/4/2021).

Laporan yang menelusuri proses konsultasi publik selama dua bulan tersebut, menguraikan berbagai faktor kunci dalam menggiatkan kolaborasi publik-swasta yang diperlukan untuk menutup kesenjangan pendanaan proyek perubahan iklim di pasar negara berkembang. Hal tersebut menyoroti kebijakan pemerintah di pasar negara berkembang dapat maju untuk menarik investasi terhadap proyek energi bersih, angkutan massal rendah karbon, sistem air dan limbah ramah iklim, bangunan hijau, dan penggunaan lahan berkelanjutan.

Baca Juga: Menuju Transisi Energi Bidang Transportasi, Indonesia Perlu Kebijakan Komprehensif

"Investasi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan melawan perubahan iklim juga memacu pertumbuhan ekonomi. Laporan ini menguraikan langkah-langkah yang dapat diambil oleh pasar negara berkembang dengan dukungan dari bisnis dan komunitas internasional. Langkah-langkah ini diperlukan untuk menarik lebih banyak modal swasta untuk proyek hijau, menciptakan kemitraan publik-swasta baru, dan memastikan pemulihan yang kuat dari pandemi," kata Michael R. Bloomberg, pendiri Bloomberg LP dan Bloomberg Philanthropies, dan Ketua CFLI, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (15/4/2021).

Di masa mendatang, CFLI akan berusaha merancang, meluncurkan, dan mengoordinasikan serangkaian "Country Pilots", bekerja sama dengan lembaga keuangan swasta domestik dan internasional terkemuka. Uji coba pertama direncanakan untuk India dan Indonesia dengan tujuan mereplikasi model ini di negara lain untuk tahun-tahun berikutnya. Upaya ini akan mendorong mobilisasi modal untuk mempercepat transisi energi dan akan didasarkan pada pertimbangan kebijakan yang dikeluarkan hari ini untuk mendorong perubahan kebijakan di negara contoh.

Bruno Wenn, Ketua Asosiasi Lembaga Keuangan Pembangunan Eropa, mengatakan bahwa pertimbangan kebijakan seperti yang tersorot pada laporan penting ini dapat memainkan peran utama dalam mendorong pendanaan iklim pada sektor energi dan sektor utama lainnya terhadap transisi rendah karbon. Semua ini merupakan produk kemitraan antara CFLI, GIF, dan EDFI.

"Selain itu, ada banyak lembaga yang berkontribusi memberikan konsultasi dan menawarkan masukan penting dalam dialog kami dengan pembuat kebijakan. Kolaborasi antara investor swasta dan lembaga yang didukung publik–seperti DFI Eropa–dapat mendukung reformasi di pasar negara berkembang dan terdepan. Kami yakin bahwa model ini memiliki potensi besar untuk memobilisasi pendanaan proyek perubahan iklim di tempat yang paling membutuhkannya," jelas Bruno.

Di seluruh dunia, pasar negara berkembang sedang berusaha untuk bangkit dari pandemi Covid-19 dengan cara mempercepat investasi dalam proyek transisi rendah karbon dan membantu memenuhi kontribusi yang ditentukan secara nasional atau biasa disebut nationally determined contributions (NDCs) seperti yang diuraikan dalam Paris Agreement. Dengan pembiayaan transisi energi yang mencapai 500 miliar dolar AS pada tahun 2020, laporan baru ini memberikan pasar negara berkembang dengan opsi kebijakan potensial untuk menarik modal swasta.

Pilihan kebijakan ini terinspirasi dari contoh pasar negara berkembang yang telah berhasil mendorong investasi untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan dapat direplikasi untuk memenuhi kebutuhan dan kondisi ekonomi yang unik di berbagai negara.

Private Sector Considerations for Policymakers memperjelas faktor-faktor yang dipertimbangkan investor saat mengevaluasi investasi dalam proyek infrastruktur berkelanjutan di pasar negara berkembang. Faktor-faktor dari pertimbangan kebijakan ini menawarkan opsi perubahan kebijakan potensial yang tersedia untuk semua negara, yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan investasi mereka saat ini, atau posisi mereka menuju ekonomi yang rendah karbon yang tangguh.

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini