Rakyat Afghanistan Teriak, Ngaku Cemas Taliban Kembali Berkuasa

Rakyat Afghanistan Teriak, Ngaku Cemas Taliban Kembali Berkuasa Kredit Foto: Getty Images/AFP/Patrick Semansky

Penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan tidak mendapatkan sambutan baik bagi warga lokal. Mereka merasa penarikan tersebut tidak akan menimbulkan keuntungan.

"Penarikan itu bukan untuk keuntungan kami," kata pekerja untuk sebuah LSM asing di Kabul, Mohammad Edriss.

Baca Juga: Tentara Amerika Mundur dari Tanah Airnya, Taliban Sorak-sorai: Kami Menang, Siap untuk Apapun

Pria berusia 31 tahun ini melihat, langkah penarikan pasukan asing di negara itu hanya akan mendatangkan kekerasan.

"Akan ada kekerasan, ketidakamanan akan meningkat secara dramatis, dan sekali lagi orang Afghanistan akan mulai meninggalkan Afghanistan dan mencari suaka di negara lain," katanya.

Banyak orang Afghanistan khawatir bahwa Taliban akan semakin mendekati kekuasaan tanpa kehadiran militer AS. Kelompok ekstremis itu memerangi Pemerintah Afghanistan yang didukung AS dan sudah menguasai sebagian besar wilayah pedesaan di kabupaten itu.

Pertempuran melonjak tahun ini, bahkan ketika Taliban terlibat dalam pembicaraan damai dengan negosiator pemerintah.

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikeluarkan Rabu (14/4) mengatakan telah terjadi peningkatan 29 persen dalam jumlah warga sipil yang tewas dan terluka selama tiga bulan pertama pada 2021 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020.

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, mengatakan menghormati keputusan AS. Namun, ketua parlemen Afghanistan, Mir Rahman Rahmani, memperingatkan bahwa negara itu mungkin akan mengalami perang saudara.

"Penarikan pasukan ini adalah keinginan rakyat Afghanistan, tetapi pada saat ini, kondisi belum dibuat untuk mewujudkannya. Ada kemungkinan kembalinya perang saudara dan ini akan mengubah Afghanistan menjadi pusat internasional. terorisme, "kata Rahmani.

Kekhawatiran serupa pun digaungkan oleh satu dari empat perempuan yang bernegosiasi dengan Taliban untuk pemerintahan Afghanistan, Fatima Gailani. "Penarikan diri tanpa perdamaian diselesaikan di Afghanistan adalah ... tidak bertanggung jawab," katanya kepada CNN.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini