Agar Tak Kena Peredaran Berita Hoaks Pandemi COVID-19 Terapkan 3S: Saring Sebelum Sebar

Agar Tak Kena Peredaran Berita Hoaks Pandemi COVID-19 Terapkan 3S: Saring Sebelum Sebar Kredit Foto: Istimewa

Hoaks atau informasi keliru menjadi hal yang perlu dikendalikan. Hoaks apalagi seputar isu kesehatan dan vaksin COVID-19 bahkan bisa menggagalkan program vaksinasi COVID-19 yang bertujuan untuk menciptakan herd immunity bagi rakyat Indonesia.

drg. Widyawati MKM, kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dalam acara diskusi virtual Bincang-bincang Seputar COVID-19 menyampaikan, “Sampai April 2021 ini Kemenkes dibantu Kominfo telah menemukan 1.562 berita kategori hoaks COVID-19 dan 160 diantaranya terkait dengan vaksinasi. Kita bekerjasama dengan Kominfo, Satgas COVID-19, dan UNICEF dan institusi terkait untuk merumuskan edukasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Kemenkes sendiri kerap melakukan media monitoring sebagai proses evaluasi aktivitas media relation yang telah dilaksanakan. Dari kegiatan tersebut Kemenkes bisa memantau berbagai isu yang berkembang baik isu bernada positif maupun negatif.

“Isu negatif ini memang perlu ditindak lanjuti agar tidak berkembang. Untuk itu kami memantau pemberitaan di media massa maupun percakapan di media sosial,” terang drg. Widyawati lebih lanjut.

Isu negatif yang berasal di media massa menurut drg. Widyawati perlu direspon secara khusus. Menurutnya hoaks tidak bisa ditangkal secara langsung tapi justru dengan mengedukasi masyarakat, “Caranya mengundang narasumber untuk menerangkan hoaks. Lalu klarifikasi informasi yang kurang tepat juga kita lakukan melalui konferensi pers dan penyebaran informasinya pun baik berupa rilis maupun infografis yang kita sebar ke semua kanal yang ada,” jelas drg. Widyawati.

Dr. dr. Erlina Burhan M.Sc, Sp.P(K), dokter spesialis paru FK UI juga dalam kesempatan yang sama menerangkan, “Memang isu seputar vaksin COVID-19 ini tengah hangat. Isu embargo vaksin Astrazeneca misalnya, perlu diketahui bahwa pabrikan Astrazeneca ini ada di India dan Korea Selatan. Kasus COVID-19 di India saat ini meningkat drastis lebih dari 120.000 dalam sehari, sehingga produksi vaksin Astrazeneca di India diperuntukkan bagi kebutuhan domestik terlebih dahulu. Apabila ada isu lain di luar itu maka sudah mengarah ke informasi yang salah,” terangnya.

Isu yang pernah dan kemungkinan masih beredar terkait dengan vaksin COVID-19 lainnya adalah apakah vaksin dengan platform mRNA seperti Pfizer dan Moderna yang akan mampu merusak DNA manusia. 

“Ini isu yang sering beredar di grup-grup WhatsApp. Sebenarnya vaksin mRNA ini tidak merusak DNA manusia, apalagi isu bahwa vaksin jenis ini mengakibatkan kemandulan tidak benar,” terang dr. Erlina Burhan.

Sering kali masyarakat juga mendengar isu bahwa vaksin COVID-19 ini terdapat microchip di dalamnya. “Sesungguhnya microchip ini tidak cukup kecil untuk bisa masuk ke jarum suntik,” terang dr. Erlina Burhan lebih lanjut.

“Memang kalau bicara hoaks, dalam tiga menit saja bisa menyebar ke sepuluh orang. Sementara untuk meluruskan hoaks perlu waktu, perlu data, dan narasumber yang terpercaya. Sementara kita meluruskan, produksi hoaks tumbuh dengan lebih cepat. Kami di Kemenkes selalu menghimbau ke masyarakat apabila menerima informasi untuk menerapkan 3S (Saring Sebelum Sebar) agar terhindar dari informasi yang tidak benar,” tambah drg. Widyawati. 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini