Ingat! Produk Hasil Start-up Harus bisa Repeatable dan Expandable

Ingat! Produk Hasil Start-up Harus bisa Repeatable dan Expandable Kredit Foto: Unsplash/Rawpixel

Untuk dapat menjadi pemilik perusahaan start-up, menurut Antovany Reza Pahlevi (Reza), ada dua syarat yang harus terpenuhi di dalamnya yakni pertama barang atau jasa yang dihasilkannya harus repeatable, dapat digunakan  berulang oleh para pengguna (user), dan yang kedua adalah produk atau jasa tersebut expandable, artinya bisa diekspansi ke manapun.

Hal tersebut mengemuka dalam perbincangan hangat pada dialog interaktif online, sociopreneur discussion series yang dipandu Nadia Hasna Humaira, seorang penggagas sociopreneur, dengan Antovany Reza Pahlevi (Reza) seorang technopreneur bisnis, yang saat ini tengah membidani lahirnya sejumlah projek start-up dan transformasi digital, Senin (19/4).

Baca Juga: Kisah Startup: Ula, Pemasok 2.500 Warung yang Dapat Dana Puluhan Juta

“Saat ini saya sedang meng-handle enam perusahaan start-up yang sedang berjalan, salah satunya adalah “Pantoera” yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa – Pantura, ide dasar lahirnya perusahaan start-up Pantoera. Kami membangun Pantoera sebagai satu wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif,” papar Reza yang juga menjadi Direktur Investasi Shinta VR.

Lulusan FISIPOL jurusan Hubungan Internasional UGM ini melanjutkan argumentasi, mengapa dirinya memiliki  passion menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya, Kabupaten Batang – Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi talent (bakat) mereka sebagai digital natives (yang lahir sebagai generasi digital).
“Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza yang baru akhir 2020 menjadi talent scout sampai lahirnya Pantoera.

Sementara itu Nadia yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide tersebut secara terbuka dan penuh harap, gagasan membangun satu movement seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga: Inkubator Startup Ini Raup Ratusan Juta Dolar untuk ....

“Dengan lapang dada dan tangan terbuka, kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih ‘mengena,’ sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun non komersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kualalumpur, Malaysia.

Nadia salut dengan gagasan dan impian Reza yang punya keinginan menjadikan movement ini dikembangkan ke daerah lain di Indonesia. Seperti misalnya kalau ke Kalimantan, nama movement-nya adalah “Borneo” dan di Sumatera nanti namanya kira-kira adalah “Sumatrans.”

Sebab dengan menggandeng anak muda setempat di daerah asalnya, mereka tidak perlu mencari pembuktian (validasi) ke sejumlah kota besar di Indonesia. “Dengan berkembangnya teknologi digital saat ini, para pemuda tidak perlu lagi merantau ke kota yang lebih besar untuk memperoleh tingkat penghidupan yang lebih memadai, bahkan mereka bisa menjadi diri sendiri secara lebih optimal di daerah asalnya,” kata Nadia lagi.

Sejumlah hal menarik yang mengulik keinginan Reza membangun movement, sebelum menuju pada tahapan menjadi perusahaan start-up bagi Pantoera, bahwa anak-anak muda di sepanjang pantau utara Jawa itu sebelumnya minder, tidak mudah terbuka (speak up).

Padahal sebenarnya mereka memiliki bakat yang cukup kuat, namun selama ini terpendam begitu saja. Terbukti saat diminta menampilkan eksistensinya melalui medsos TikTok dan berpose di Instagram (IG), keahlian mereka mulai terlihat, tetapi belum mampu diekspresikan kepada audiens yang tepat dan berpotensi. 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini